Scroll to Top

BANGSAWAN DAN TAUBAT SANG MALING

By Susiyanto / Published on Tuesday, 10 Mar 2015 01:32 AM / No Comments / 745 views

Suatu hari kepada Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat, patih Kasunanan Surakarta era Sunan Pakubuwana VII, dihadapkan seorang pencuri yang berhasil ditangkap oleh warga kampung Kepatihan. Sang Patih kemudian bertanya kepada Si Maling:

 “Apa kamu bersedia taubat? Kalau kamu mau bertaubat, maka akan aku bebaskan”.

 Tentu saja pencuri itu kemudian menjawab, “bersedia”.

 Pencuri itu tidak mengira bahwa Raden Adipati Sosrodiningrat kemudian memerintahkan abdi untuk mencukur gundul kepalanya. Tindakan penggundulan ini tentu saja membuat hati si Maling menjadi kecut.

 Bagaimana tidak, pada jaman itu orang Jawa yang berkepala gundul secara umum dianggap telah menempuh jalan kesucian. Biasanya mereka ini terdiri dari umat Islam yang telah melaksanakan ibadah haji. Dalam haji terdapat ibadah memotong rambut yang disebut tahalul. Pada masa itu banyak orang Jawa yang melakukan tahalul dengan mencukur habis rambut dikepalanya. Sepulang dari haji mereka terus memelihara agar kepalanya tetap ‘plontos’ sebagai perlambang telah menjauhi keduniawian.

 Kepala yang gundul juga menjadi pengingat bahwa mereka seharusnya terus menyempurnakan amalan dan membangun kedekatan lebih intensif dengan penciptanya. Mereka harus menjaga kesucian dirinya dari noda-noda kehidupan profan. Bagi Orang Jawa, haji yang mabrur berpahala dengan terampuninya dosa sehingga kembali suci. Pemahaman ini mungkin merupakan hasil pemaknaan terhadap hadits Nabi: “Barang siapa yang menunaikan haji, dengan tidak berbicara kotor dan tidak mencaci maka diampuni dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan”(HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

 Bukan hanya para haji, sebagian kalangan kaum  dan muadzin (modin) yang biasa memimpin sejumlah ritual Islam ada juga yang menggundul kepalanya. Jadi, gundul pada masa ini menunjukkan suatu identitas tertentu. Tidak heran, jika sang maling menjadi kecil nyalinya gara-gara digundul.

 Adipati Sosrodiningrat kemudian bertanya kepada Pencuri yang telah digunduli itu: “Apa kamu bisa mengaji (membaca Al Quran, pen) ?”

 “Tidak Gusti”, Jawab Sang Pencuri.

 “Apa kamu bisa berdoa”

 “Tidak Gusti”

 Pencuri yang tertangkap itu kemudian diperintahkan untuk mengabdi sebagai kaum di kampung Kepatihan. Ia diberi makan cukup dan Penghulu (pengulu) setempat diminta untuk mengajarinya tentang Islam. Perubahan yang luar biasa terjadi, pencuri itu benar-benar bertaubat. Pada masa selanjutnya ia menjadi seorang modin yang kaya dengan pemahaman agama dan mampu menjadi “pamomong” keagamaan masyarakat kampung Kepatihan. Ia menjadi bagian dari kaum yang shalih, demikian juga anak cucunya. Namun ia yang bertaubat memang tidak pernah tercatat namanya dalam sejarah. [Susiyanto] –

Diadaptasi dari cerita yang didiksahkan Ki Padmosusastro dalam Imam Supardi, Ki Padmosusastro: Wong Mardika kang Marsudi Kasusastran Djawa ing Surakarta, Surabaya: Panjebar Semangat, 1961, p. 77)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *