Scroll to Top

CERITA MENAK : WARISAN BUDAYA ISLAM DI INDONESIA

By Susiyanto / Published on Thursday, 15 Apr 2010 23:56 PM / 1 Comment / 904 views

EPIK MENARIK

Serat Menak Kustup karya R. Ng. Yasadipura I, sebuah episode cerita Menak di Jawa. (Koleksi : Susiyanto).

Setelah epos Mahabarata dan Ramayana, cerita Menak merupakan karya fiksi yang banyak menginspirasi orang Jawa dan Lombok, baik dari kalangan rakyat kecil hingga kaum pembesar pada jamannya. Dari cerita ini nyatanya telah lahir sejumlah karya sastra dan budaya yang bermutu tinggi dengan tanpa mengabaikan aspek moralitas. Cerita Menak merupakan inspirasi bagi lahirnya Wayang Menak yang sering dahulu dipentaskan sebagai tontonan rakyat kecil hingga bangsawan di Kraton. Menyusul kemudian Wayang Golek Menak dan Wayang Orang Menak. Sejumlah sendratari juga lahir dari cerita Menak ini. Demikian juga seni ukir dan tatah sungging tidak mau ketinggalan mendapatkan inspirasi dari cerita yang sama. Termasuk juga membidani lahirnya sejumlah karya sastra lain yang mewarisi semangat cerita Menak.

Mengapa cerita ini sangat inspiratif bagi sebagian mereka ? Masyarakat Jawa umumnya sangat menyukai cerita-cerita kepahlawanan (epos) yang mengedepankan sifat kesatriyaan, keprajuritan, pantang menyerah, dan perjuangan juga lika-liku romantisme yang mengharu biru. Cerita Menak nyatanya mampu menawarkan semua sisi tersebut.  Selain itu cerita Menak juga memberikan ajaran moralitas yang tinggi.

SPIRIT BUDAYA DAN SENI ISLAM

Pada dasarnya, cerita Menak adalah sebuah gambaran perjuangan kaum muslimin dalam melakukan dakwah dan jihad untuk meninggikan kalimat Allah. Sumber ceritanya berasal dari kitab “Qissa I Emr Hamza” yaitu sebuah karya sastra Persia pada era pemerintahan Sultan Harun Ar Rasyid (766-809 M). Karya sastra ini di Melayu kemudian dikenal dengan nama “Hikayat Amir Hamzah”. Transliterasi awal terhadap kisah Amir Hamzah  di Jawa dilakukan pada tahun 1717 M oleh Ki Carik Narawita (carik = jabatan untuk seorang Jaksa di Keraton), atas perintah Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Susuhunan Pakubuwana I di Kasunanan Kartasura. Hasil terjemahannya kemudian dikenal dengan nama “Serat Menak”. Dalam karya berbahasa Jawa ini sejumlah nama mulai disesuaikan dengan pelafalan lidah Jawa, misalnya Osama bin Omayya menjadi Umarmaya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badiuz Zaman diubah menjadi Imam Suwangsa, Mihrnigar menjadi Dewi Retna Muninggar, Unekir menjadi Dewi Adaninggar, Amir Hamzah menjadi Amir Ambyah, dan lain sebagainya. Perlu diketahui sebelum terjadi proses transliterasi ini, sebenarnya cerita Menak ini telah lebih dahulu popular di kalangan masyarakat Jawa.

Pada masa selanjutnya “Serat Menak” ditulis ulang dengan menggunakan tembang Macapat oleh Raden Ngabehi Yasadipura I dan diteruskan oleh Raden Ngabehi Yasadipura II, keduanya adalah pujangga besar dari Kasunanan Surakarta.   Karya kedua pujangga tersebut pernah dipublikasikan dalam buku beraksara Jawa oleh Balai Pustaka  pada tahun 1925. Cerita Menak dalam karya kedua pujangga tersebut merupakan bentuk pengembangan bebas dari karya terjemahan Bahasa Melayu yang sebelumnya diprakarsai oleh Ki Carik Narawita. Unsur-unsur mistik Jawa mulai muncul dalam karya ini. Namun demikian spirit yang mengilhami alur kisahnya tidak lenyap sama sekali. Penceritaan dalam gaya tembang justru memperlihatkan keindahan bahasa dan sastra tingkat tinggi yang sebanding dengan style yang dimiliki cerita Panji. Cerita Menak ini terdiri dari 48 jilid. Jika dikalkulasi maka keseluruhan isi “Serat Menak” terdiri dari 2.050 halaman. Sebuah karya sastra Islam yang sangat fantastis di Jawa.

Setelah melalui dialektika yang panjang, Prabu Nursewan akhirnya mengucapkan kalimat syahadat dihadapan Amir Ambyah. (Illustrasi : Susiyanto)

Selain itu terdapat juga buku “Serat Menak Branta” yaitu cerita Menak yang bisa dikatakan sebagai versi Mataram atau versi Yogyakartanan. Naskah asli Serat Menak Branta ini dikerjakan oleh Adi Triyono dan Tukiyo atas perintah Gusti Kanjeng Ratusasi, putri dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI. Isinya secara umum tidak jauh berbeda dengan “Menak Gandrung” karya Raden Ngabehi Yasadipura, namun disajikan secara berbeda dengan mempergunakan gaya bahasa yang lebih mudah dicerna.

DAKWAH DAN JIHAD

Isi cerita Menak ini mengisahkan perjuangan umat Islam sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad saw. Di tengah kekafiran dan kejahiliyahan yang berkembang di sejumlah negeri di Timur Tegah, terdapat kaum hanif yang tetap menjalankan ajaran dari millah Nabi Ibrahim, yaitu Agama Islam. Jadi Agama Islam yang dimaksud dalam cerita Menak sebenarnya adalah ajaran Allah yang telah dimulai sejak masa kehidupan Nabi Adam. Cerita ini secara tersirat juga menegaskan bahwa Agama Allah satu-satunya hanyalah Islam. Sementara itu terdapat agama yang lain yang muncul sebagai bentuk distorsi dari ajaran nabi-nabi sebelumnya.  Kaum hanif ini terus berjuang menegakkan kalimat Allah dengan menghadapi tantangan kaum kafir, sambil menantikan kedatangan Nabi akhir zaman yang akan segera tiba, bernama Nabi Muhammad.

Tokoh cerita utamanya adalah Amir Ambyah (Amir Hamzah). Diceritakan bahwa ia sangat rajin berdakwah dan melakukan akivitas jihad. Hasil perjuangannya, sejumlah raja-raja kafir berhasil disyahadatkan sehingga mengakui Allah sebagai Illah dan Nabi Muhammad, nabi akhir zaman yang akan segera tiba, sebagai utusan Allah. Salah satu tokoh yang berhasil diislamkan adalah mertuanya sendiri yang bernama Prabu Nursewan atau Nusirwan (Anusyirwan), raja Medayin. Tokoh Amir Ambyah memiliki banyak sekali julukan antara lain Wong Agung Menak, Wong Agung Jayengrana, dan Wong Agung Jayengresmi. Sebutan Wong Agung Menak ini yang kemudian digunakan oleh pujangga-pujangga Jawa untuk menamakan kitabnya sebagai “Serat Menak”. Disebut Wong Agung Jayengrana sebab Amir Ambyah selalu berjaya dalam setiap pertempuran yang diikutinya. Amir Ambyah disebut sebagai Wong Agung Jayengresmi karena ia bukan hanya pahlawan di medan perang, namun ia memiliki sisi keromantisan terhadap pasangan hidupnya. Amir Ambyah merupakan tokoh yang pandai memelihara keutuhan rumah tangganya, meskipun memiliki istri lebih dari satu. Dalam hal ini Amir Ambyah memiliki karakter yang mirip Arjuna dalam epos Mahabarata versi Jawa, namun tidak pada karakteristik “playboy” yang dimiliki tokoh Pandawa tersebut.

Menariknya, kisah perjuangan Amir Ambyah ini bukan hanya berhenti pada akhir kehidupannya sendiri. Pada era itu banyak golongan ahlu kitab yang sedang menanti kedatangan nabi akhir zaman bernama Ahmad (Muhammad) yang namanya telah tertulis dalam kitab-kitab terdahulu. Namun kebanyakan golongan ini justru mengingkari setelah Allah menggenapi ketentuannya dengan kedatangan utusan Allah tersebut. Amir Ambyah termasuk pihak yang beruntung. Ia secara sukarela menerima ajaran risalah Islam yang telah disempurnakan dimasa kerasulan nabi akhir zaman tersebut. Pengingkaran terhadap keberadaan sang nabi umumnya disebabkan oleh kesombongan yang ada pada diri mereka, penyembahan berhala yang masih menggejala, dan rasa gengsi yang berlebihan di antara kaum ahli kitab. Dengan demikian perjuangan dakwah dan jihad Amir Ambyah menyebarkan agama Islam sejak zaman sebelum kerasulan tetap akan berlanjut pada masa setelahnya.

PENGEMBANGAN BUDAYA

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa cerita Menak telah menjadi inspirasi bagi lahirnya sejumlah produk budaya. Wayang Kulit Menak atau disebut sebagai Wayang Menak hanya merupakan salah satu wujudnya. Wayang Menak ini awalnya dibuat oleh Kyai Trunadipa, seorang tabib dan ahli kebatinan yang memiliki tekad untuk menyiarkan Agama Islam, dari Baturetno, Wonogiri (dahulu termasuk wilayah Kasunanan Surakarta). “Boneka” wayangnya, sebagaimana Wayang Purwa, terbuat dari kulit kerbau yang ditatah dan disungging. Pementasannya dilakukan dengan mempergunakan perlengkapan layar kelir dan batang pisang untuk menancapkan wayang. Juga mempergunakan blencong sebagai penerang, cempala, serta kepyak. Peraga karakter  cerita Menak terdiri dari kurang lebih 350 buah wayang. Sedangkan sumber ceritanya mengacu pada “Serat Menak” karya Raden Ngabehi Yasadipura I dan II. Wayang Menak juga mengenal keberadaan cerita pakem dan carangan. Cerita Pakem merupakan kisah Menak yang dianggap sebagai cerita utama, sedngkan cerita carangan merupakan wujud pengembangan cerita yang bersifat dinamis namun tetap tidak meninggalkan pakemnya. Dewasa ini wujud wayang Menak ini masih bisa disaksikan disejumlah museum seperti Musium Yayasan Kekayon dan Musium Sanabudaya di Yogyakarta.

Selain dalam wujud wayang kulit, cerita Menak juga menjadi sumber ide bagi lahirnya Wayang Golek Menak. Berdasarkan tradisi, Wayang Golek Menak ini awalnya diciptakan oleh Sunan Kudus. Hal ini bukan hal yang aneh mengingat bahwa cerita Menak ini sebenarnya telah lebih dahulu popular bahkan sebelum proses transliterasi terhadap “Hikayat Amir Hamzah” dilakukan. Awalnya jumlah boneka (golek) Menak terdiri dari 70 buah saja. Namun seiring berjalannya waktu serta kebutuhan cerita akibat berkembangnya versi cerita carangan, maka jumlah boneka wayang tersebut makin bertambah banyak, sekitar 150 hingga 200 buah. Pada masa kejayaannya pentas Wayang Golek Menak memiliki jangkauan di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Di antaranya Yogyakarta, Surakarta, Kebumen, Bojonegoro, dan lain sebagainya. Namun saat ini keberadaan Wayang Golek Menak seolah telah tergeser oleh laju jaman. Meskipun demikian belum lenyap sama sekali. Wayang Golek Menak justru menjadi tontonan elit bagi wisatawan asing dan kalangan penikmatnya yang dipertunjukkan di sejumlah hotel berbintang di Yogyakarta. Waktu pertunjukannya dipadatkan hanya menjadi tiga jam. Sayangnya, dengan demikian totonan ini tidak lagi dapat dijangkau oleh kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah secara luas.

Saking menariknya, Sultan Hamengku Buwana IX kemudian mengabadikan kisah monumental Menak tersebut dalam bentuk sendratari. Rangkaian gerakan tari tersebut dikenal dengan nama “Beksa Golek Menak”. Ciri khas yang paling menonjol dari tari Menak ini terletak pada lemah gemulai tari yang memasukkan unsur bela diri Pencak Silat yang telah diperhalus gerakannya. Pencak Silat pada era ini merupakan salah satu kecakapan yang dibutuhkan dalam olah  keprajuritan. Harapannya dengan menjadikannya sebagai sendratari maka keberadaan cerita ini, unsur kehalusan tari, dan sekaligus beberapa gerakan pencak silat yang ada dapat dijaga kelestariannya. Selain versi sendratari Menak yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana IX tersebut, di Yogyakarta sendiri juga berkembang semacam Wayang Wong Menak (Wayang Orang Menak) yang berorientasi pada humor. Meskipun demikian pesan-pesan moral yang disampaikan tetap tidak menjadi kabur. Tokoh yang banyak digunakan dalam wayang orang versi ini adalah Umarmaya dan Umarmadi, dua tokoh yang digambarkan memiliki selera humor tinggi dalam cerita Menak.

Perkembangan cerita Menak ini bukan hanya menjadi milik Jawa saja. Jika tanah Melayu telah menyediakan sumber cerita yang mudah diakses, maka suku Sasak di Lombok merupakan salah satu lahan subur bagi hidupnya cerita Menak ini. Di sana cerita Menak telah menjadi sebuah tradisi lesan yang ceritakan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Versi cerita yang berkembang juga menjadi semakin bervariasi. Pengembangan Wayang kulit maupun golek Menak di daerah ini juga mengalami nasib yang hampir serupa dengan di Jawa, hidup enggan mati pun segan. Pada akhirnya, produk kebudayaan ini akan mencari jalannya agar bisa tetap eksis dalam berbagai bentuk. Diprasastikan oleh produk publikasi media masa, diawetkan oleh museum, dan dikenang sebagai bagian dari sejarah.

Sejumlah primbon Jawa yang ada hingga hari ini, ternyata juga mengambil nama dari cerita Menak. Perlu dipahami primbon merupakan buku-buku yang memuat tradisi mistik dan klenik di Jawa. Biasanya kitab primbon selalu akan mengambil nama-nama yang dianggap menarik sehingga mampu memikat pembaca untuk menekuni bacaannya. Rupanya cerita Menak ini juga memebri inspirasi yang sama bagi kaum kebatinan yang menciptakan primbon. Sebut saja nama-nama seperti Primbon Adam Makna, Primbon Betal Jemur, Primbon Bekti Jamal, Primbon Lukman Hakim Adam Makna, Primbon Kuraisyin Adam Makna, dan lain sebagainya. Istilah “Adam Makna” berasal dari nama sebuah kitab legendaris dalam cerita Menak yaitu Kitab Adam Makna, semacam kitab fikih yang memuat makna, rahasia, dan tuntunan hidup bagi manusia agar dapat menjalani kehidupannya dengan sempurna. Bekti Jamal dan Betal Jemur adalah nama karakter yang pernah menjadi pemilik Kitab Adam Makna. Betal Jemur adalah putra dari Raden Bekti Jamal. Tokoh Amir Ambyah pernah menjadi anak angkat sekaligus murid dari Betal Jemur. Ada pun Lukman Hakim merupakan ayah dari Raden Bekti Jamal. Lukman Hakim disebut-sebut sebagai tokoh yang memiliki kemampuan seperti Nabi Sulaiman. Sedangkan Kuraisyin adalah nama dari salah satu putri Amir Ambyah dari istrinya yang bernama Dewi Ismayawati, putri Prabu Tamimasyar dari kerajaan Ngajrak.

Keempat kitab di atas, selain Primbon Bekti Jamal, diyakini merupakan karya Raden Ngabehi Yasadipura I. Dengan demikian dapat dinilai bahwa pujangga tenar Kasunanan Surakarta ini cerita Menak yang gubahannya sangat membekas dihatinya. Sedangkan Primbon Bekti Jamal merupakan karya Raden Tanoyo, budayawan yang hidup jauh pada beberapa generasi selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa cerita Menak memiliki kepopuleran yang melintasi jaman. Meskipun nama-nama dalam cerita Menak dipopulerkan oleh sejumlah kitab primbon, namun antara keduanya memiliki perbedaan titik tolak yang mendasar. Cerita Menak mewakili semangat perjuangan menegakkan ajaran Islam. Sedangkan sejumlah kitab primbon yang ada tersebut menunjukkan bahwa kaum yang masih menggeluti kebatinan pada dasarnya tidak akan mampu dan bersedia suka rela melepaskan diri dari Islam dan kebudayaannya. Sebab meskipun mereka belum sepenuhnya menjadi mukmin sejati, hati mereka sebenarnya tetap terpaut kepada Islam. Islam bagi mereka adalah agama ageman aji, agama pencerahan yang memberi mereka harga diri dan keselamatan sejati. Butuh waktu yang panjang dan bimbingan yang proporsional untuk berproses ke arah yang lebih baik. Insya Allah. (Susiyanto).

Wallahu a’lam bishshawwab

BACAAN PENUNJANG

Kamajaya (pimred.). 1985. Almanak Dewi Sri 1986. U.P. Indonesia, Yogyakarta

Sastroamidjojo, Dr. A. Seno. 1964. Renungan Tentang Pertundjukan Wajang Kulit. PT. Kinta, Jakarta

Sayid, R. M. 1958. Bauwarna Wayang: Wewaton Kawruh Bab Wayang. Percetakan Republik Indonesia, Yogyakarta

Sugito, Drs. Bambang. tth. Dakwah Islam Melalui Wayang Kulit. Penerbit Aneka, Surakarta

Wijanarko. tth. Selayang Pandang Wayang Menak: Salah Satu Bentuk Seni Tradisionil yang Wajib Kita Lestarikan. Amigo, Surakarta

Yasadipura I, Raden Ngabehi Yasadipura. 1933. Menak Sarehas. Balai Pustaka – Batawi Centrum, Jakarta

Yasadipura I, Raden Ngabehi. 1935. Menak Kustup. Jilid II. Balai Pustaka – Batawi Centrum, Jakarta

One thought on “CERITA MENAK : WARISAN BUDAYA ISLAM DI INDONESIA”

  1. Soal Keesaan Allah dan Keilahian Yesus Kristus
    PERTANYAAN:
    Saya membaca Alkitab, dan menyimpulkan bahwa tidak ada kontradiksi antara ajaran Yesus dan Muhammad, khususnya dalam ajaran mengenai keesaan Allah. Dalam Yohanes 17:3 Yesus bersabda: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu hendaknya mereka mengetahui bahwa Engkau adalah satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. Jadi bisa dirumuskankan: “Tidak ada ilah selain Allah dan Yesus adalah utusan Allah”, yang paralel dengan ajaran pokok Islam: Lâ Ilaha illa Allah, Muhammad Rasul Allah. Artinya: “Tidak ada ilah selain Allah, Muhammad Utusan Allah”. Lagi, dalam 1 Timotius 2:5 disebutkan: “Karena Allah itu Esa, dan esa pula Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Manusia Kristus Yesus”.
    Dalam Markus 12:29 Yesus mengutip Taurat: Dengarlah hai Israel, Allah Tuhan kita, Tuhan itu Esa”. Tetapi antara Islam dan Kristen menjadi berbeda secara funda-mental ketika Kristen mengajarkan Trinitas, termasuk pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan: “Kafirlah orang yang berkata bahwa Allah itu adalah ketiga dari Trinitas, padahal tidak ada ilah kecuali Ilah yang Esa” (Q.s. Al-Maidah/5:73).
    JAWABAN:
    Dalam bahasa asli, Q.s. Al-Maidah/5:73 berbunyi: Laqad kafar alladzina qaluu Innallaha tsalitsu tsalatsah. “Kafirlah orang yang berkata bahwa Allah itu adalah ketiga dari tiga”. Terjemahan “Allah is one of three in a Trinity” jelas-jelas salah. Tsalitsu tsalatsah, secara harfiah: “ketiga dari yang tiga”. Kata Trinitas berasal dari bahasa Latin: treis = “tiga”, dan unitas = “satu”, “ketiga dari yang satu”, bahasa Arabnya: tsalitsu wahidah, dan bukan tsalitsu tsalatsah. Selan-jutnya, secara historis ayat tersebut sama sekali tidak cocok bila diterapkan bagi Iman Kristen. Banyak ayat-ayat Qur’an yang mengkritisi Iman Kristen, sebenarnya ditujukan kepada sekte-sekte heretik (sesat) Kris-ten yang berkembang di Mekkah dan sekitarnya pada zaman Muhammad, misalnya: Collyridianisme (atau: Maryamin), Gnostik, Dokotisme, dan sebagainya, dan bukan Iman Kristen resmi yang waktu itu berpusat di Byzantium, Alexandria, Antiokia, Eddesa dan wilayah Turki sekarang.
    Iman Kristen sejati tidak pernah mempercayai paham primitip Tsalitsu tsalatsah, sejenis paham Tritheisme yang terdiri Allah, Isa dan Maryam (Q.s. Al-Maidah 116). Karena itu, dalam 1 Korintus 8:4 Rasul Paulus berkata: Oudeis theos utheros ei me heis. Artinya: “Tidak ada ilah lain kecuali Allah Yang Esa”. Dalam Alkitab bahasa Arab diterjemahkan: Lâ ilaha illa Allah al-Wahid. Jadi, jauh sebelum Islam lahir ungkapan “Tidak ada ilah selain Allah” sudah ada dalam Iman Kristen. Karena itu, kebanyakan umat Islam mengkritik Iman Kristen tetapi sebenarnya mereka tidak memahami apa yang mereka kritik. Salah satu sebabnya, karena menyamaratakan sekte-sekte Kriusten primitip di Mekkah dan sekitarnya, yang pahamnya dikritik keras oleh Al-Qur’an, paham primitip yang sebanrnya juga tidak diimani oleh umat Kristen, baik Katolik, Protestan, apalagi gereja-gereja ortodoks yang jelas-jelas mempunyai akar historis yang “sanad”-nya bisa dibuktikan dari Yesus dan para murid-Nya.
    3. Makna Ajaran Ketritunggalan Allah
    PERTANYAAN;
    Kalau begitu, bagaimanakah ajaran Trinitas seperti yang diajarkan oleh Alkiatb sendiri? Dan apakah perbedaannya dengan paham “triteisme” yang dikritik oleh Al-Qur’an?
    JAWABAN:
    Trinitas tidak mengajarkan adanya 3 Tuhan, apa-lagi terdiri Allah, Isa dan Maryam (Q.s. Al Maidah 73, 116). Ajaran Tritunggal ini tidak lahir dari alam politeisme seperti yang dihadapi Islam, sehingga al-Qur’an menegaskan Lam Yalid wa lam yulad. Artinya: “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Kritik Lam yalid wa lam Yulad dalam surah al-Ikhlas itu, konteks semula ditujukan kepada keyakinan Arab pra-Islam yang menganggap al-Lata, al-Uzza dan Manat sebagai Banat Allah (putri-putri Allah). Kristen muncul dari latarbelakang Yahudi yang monoteis, sehingga yang mau dijawab dengan akidah Kristen bukan “keberapaan Allah”, tetapi “kebagaimanaan Allah Yang Esa” (Ibrani: Elohim Ehad, Suryani: Had Alaha, Arab: Allahu Ahad). Tetapi bagaimana dengan Bapa, Putra dan Roh Kudus? Bapa adalah kata kiasan untuk Wujud Allah, Putra adalah Firman-Nya, dan Roh Kudus atau Hayat/Hidup Allah.
    Dalam keyakinan Kristen, Firman itu telah turun (nuzul) menjadi manusia, sebanding dengan keyakinan Islam Firman menjadi Alqur’an. Lalu apabila Al-Qur’an itu mempunyai wujud temporal berwujud Kitab berbahasa Arab (kalam Lafdzi), sekaligus kekal yaitu Kalam Nafsi yang tersimpan di Lauh al-Mahfud. Kalam yang Lauh al-Mahfud itu kekal, dan bukan makhluk. Begitu juga keyakinan Kristen, Yesus yang kelihatan, lapar dan haus itu Nabi dan rasul (Ibrani 3:1), bukan Allah dan bukan Tuhan. Karena itu ia berdoa dalam kema-nusiaan-Nya, tetapi sebagai Firman Allah, Ia kekal dan satu dengan Wujud Allah (Yohanes 1:1). Yohanes 17:3 dan 1 Timotius 2:5 jelas-jelas merujuk kepada kemanusiaan Yesus, dan tidak perlu dipertentangkan dengan keilahian Firman Allah: Pada Mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama Allah, dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa DFia tidak ada sesuatu pun yang jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yohanes 1:1,3).
    Dalam makna Firman yang kekal itulah, Yesus disebut Putra Allah, bukan menunjuk kemanusiaan-Nya. Allah itu kekal, dan Firman serta Roh-Nya juga sama-sama kekal. Sebab kalau Firman tidak kekal, berarti ada waktu tertentu dimana Allah tidak punya Firman. Itu mustahil bukan? Begitu juga Roh Allah harus kekal bersama Wujud Dzat-Nya, sebab tidak mungkin Allah pernah ada tanpa Roh-Nya (jadi bukan juga Malaikat Jibril seperti disalahpahami beberapa tafsir Qur’an, seperti Jalalain, dan sebagainya). Itulah yang disebut Ajaran Tritunggal, bukan triteisme seperti tuduhan beberapa polemikus Muslim seperti Ahmad Deedat.. Belajarlah dari sumber Kristen langsung, sebelum menulis begitu “percaya diri/PD”. Penguasaan sejarah juga sangat penting, dan harus mengacu dari sumber-sumber primer, bukan dari sumber-sumber sekunder kaum polemikus yang mengutip dari kutipan orang tanpa check and recheck dari sumber aslinya.
    4. Menjelaskan Keilahian dan Kemanusiaan Yesus Kristus (The Godhead and The Manhoof of Jesus Christ)
    PERTANYAAN:
    Itulah keyakinan Kristen tentang “dua tabiat Kristus”, sepenuhnya Ilahi dan sepenuhnya insani. Keyakinan ini sulit dimengerti umat Islam, sebab di satu pihak sebagai Allah Dia Maha Kuasa, tetapi pada saat yang sama Dia menderita, bahkan bisa mati. Kalau lagi menangis dan dicobai, lalu mana yang disebut Allah? Seandainya kita lagi berdoa, dan Dia menjawab begini: “Aku ini lagi bersifat manusia, sama seperti kamu aku sendiri juga berdoa?” Itulah sebabnya bagi umat Islam keyakinan tentang dua tabiat Yesus itu tidak masuk akal.

    JAWABAN:
    Keyakinan kami tentang kedua tabiat Al-Masih sebanding (tidak persis sama) kalau umat Islam memahami Qur’an sebagai Kalam (Sabda) Allah. Al-Qur’an itu di satu sisi ghayr al-makhluq (tak tercipta) sebagai Kalam Nafsi (Sabda yang kekal), tetapi juga sekaligus makhluq (tercipta) sebagai kalam lafdzi (Sabda temporal dalam wujud nuzulnya sebagai “kitab berbahasa Arab”). Kalau ada yang bertanya, Allah mana lagi yang menjawab doa Yesus, kalau Yesus sendiri adalah Allah? Jawabnya: Yang berdoa adalah kemanusiaan Yesus, dan yang menjawab doa adalah Allah yang selalu berdiam bersama Firman-Nya yang kekal (Yoh. 1:1’ 8:42, 58) dan Roh-Nya yang kekal (Yoh. 15:26; 1 Kor. 2:10-11). Allah, Firman-Nya dan Roh-Nya adalah Allah yang Mahaesa. Karena Firman dan Roh-Nya selalu menyatu dengan Wujud Dzat-Nya. Yesus sebagai Manusia, sebanding dengan Qur’an dalam bentuk fisik bahasa Arab. Nah, kalau Firman Allah yang ghayr al-Makhluq (bukan ciptaan) bisa nuzul astau turun menjadi kitab, sebuah benda mati, lalu apa mustahilnya menjadi Manusia (lihat. Yohanes 1:14)?
    Selanjutnya, kalau umat Islam berkata bahwa Al-Qur’an itu tak tercipta, bukankah kertasnya itu tercipta, huruf Arabnya berkembang (zaman Nabi belum ada harakat). padahal sesuatu yang berkembang itu ciptaan, kira-kira seperti itu. Kalam Allah itu kekal, tetapi toh kertasnya Qur’an sebagai wujud pengejawantahan wahyu juga bisa rusak. Seperti itulah pengibaratan kematian Yesus. Ketika umat Kristiani menyebut Firman itu bersama Allah dan Firman itu Allah (Yohanes 1:1,14), dan sama sekali bukan merujuk kepada kemanusian Yesus (1 Petrus 3:18).
    Mungkin umat Islam mesti memahami sejarah ilmu Kalam mengenai makhluk/tidaknya Qur’an, perdebatan kaum Ash’ariyyah dan kaum Mu’tazilah, yang ternyata ditemukan banyak paralel dengan perkembangan teologi Kristiani. Sifat-sifat Allah yang “La hiya wa laa ghayruha” (tidak sama dengan Dzat-Nya tetapi juga tidak berbeda dengan-Nya). Untuk memehami paralel keyakinan Islam dan Kristen tentang Firman yang kekal sekaligus temporal, kita bisa membaca buku Seyyed Hussein Nassr, ahli ilmu agama-agama dan seorang Muslim, dalam bukunya Ideals and Realities of Islam (Cairo: American University Press, 2002) sebagai berikut:
    One could of course make a comparison between Islam and Christianity by comparing the Prophet to Christ, the Quran to The New Testament, Gabriel to The Holy Ghost, the Arabic language to Aramaic, the language spoken by Christ, etc. In this way the sacred book in one religion would correspond to the religion to the central figure in the other religion and so on. This type of comparison would be of course meaningful and reveal useful knowledge of the structure of the two religions. But in order to understand what the Quran means to Muslims and why the Prophet is believed to be unlettered according to Islamic belief, it is more significant to consider this comparison from another point of view.
    The Word of God in Islam is the Quran; in Christianity it is Christ. The vehicle of the Divine Message in Christinaity is the Virgin Mary; in Islam it is the soul of the Prophet. The Prophet must be unlettered for the same reason that the Virgin Mary must be virgin. The human vehicle of the Divine Message must be pure and untainted. The Divine Word can only be written on the pure and “untouched” tablet of human receptivity. If this Word is in the form of flesh the purity is symbolized by the virginity of the mother who gives birth to the word, and if it is in the form of a book this purity is symbolized by the unlettered nature of the person who is chosen to announce this Word among men.
    5. Allah itu Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan (Lam Yalid wa Lam Yulad)
    PERTANYAAN:
    Bagi umat Islam, Allah itu Maha Esa, tidak ada yang setara dengan-Nya, Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan (Lam yalid wa lam yulad). Inilah salah satu yang mendasari mengapa umat Islam menolak keyakinan bahwa Yesus adalah Putra Allah. Karena bagi Islam, Allah itu tidak beristri bagaimana mungkin Dia mempunyai anak? Nabi Isa hanya seorang utusan Allah, Ia adalah Nabi seperti nabi-nabi yang lain.
    JAWABAN:
    Seluruh pendapat di atas di-“amin”-kan oleh Iman Kristen. Memang umat Kristen juga percaya Allah itu Esa, Tidak beranak dan tidak diperanakkan, apalagi kepercayaan primitip bahwa Ia beristri a la keyakinan Jahiliah pra-Islam, yang kemudian direaksi dalil Qur’an: Lam Yalid wa lam Yulad. Tapi perlu anda tahu, setiap agama memiliki “bahasa teologis” yang tak bisa ditafsirkan secara harfiah. Begitulah istilah Putra Allah, sama sekali bukan Allah itu beranak. Coba bandingkan, dalam Qur’an ada istilah “Ibnu Sabil”, maksudnya “musafir agama” (harfiah: “anak jalan”), tentu tak perlu bertanya: Siapa istrinya jalan? Begitu juga sebutan Allah sebagai Bapa, tidak menunjuk jenis kelamin. Islam juga ber-keyakinan Allah “beyond the gender”, tetapi karena keterbatasan bahasa, toch umat Islam berdoa: “Allahuma anta-ssalam……” Orang awam bisa saja bertanya: “Mengapa bukan “anti ssalamah”?. Jawabnya, karena masyarakat Timur Tengah itu patrilineal.
    Dalam Kristen tak ada keyakinan “injil yang turun dari langit”, sebab Firman Allah itu turun sebagai Manusia utama (Isa al-Masih), bukan berupa Kitab Injil. Jadi, tidak fair menilai Kristen dari “frame of reference” Islam, dan sebaliknya. Lagi-lagi, seorang teman Muslim yang tidak mengerti mengejek: Yesus kok sifatnya bisa mancolo Tuhan dan mancolo manusia, merasakan sakit dan menderita. Jawabnya, coba banding-kan dengan Ilmu Kalam mengenai Qur’an sebagai Kalam kekal, – yang kata Al-Ghazali: qa’imun fi Dzatihi (melekat pada Dzat-Nya), – dan “bentuk nuzul” temporalnya sebagai Kitab dalam dimensi ruang dan waktu yang terbatas! (baca: “Qawaidul ‘Aqaid”-nya Imam Al-Gazali). Puncak pergumulan kaum Ash’ariyyah itu sampai pada dalil yang lalu dinisbahkan dengan sabda Nabi Muhammad: Man Qala Innal Qur’an makhluqun fahuwa kafir Artinya: “Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an itu diciptakan maka ia adalah kafir”.
    Umat Islam percaya bahwa Firman Allah itu kekal, tidak bisa rusak, bukan? Tetapi apa ya Allah perlu tegaskan dulu: “Tunggu, yang kekal itu bukan kertasnya lho, bukan huruf dan harakat Arabnya yang berkembang (yang menunjukkan keterciptaan)? Sebab itulah hakikat pewahyuan, bagaimana “Yang Kekal” memasuki dimensi ruang dan waktu untuk menyapa manusia, entah itu diyakini nuzul sebagai “Kitab yang Ilahi” dalam keyakinan Islam, atau “Manusia Sempurna” (Insan al-Kamil) yaitu Yesus Kristus atau Isa Al-Masih dalam Iman Kristen. Keduanya sama-sama diyakini “ghairul Makhluq” (bukan ciptaan, non factum).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *