Scroll to Top

DELAPAN PUSTAKA JAWA BERNUANSA ISLAM DI MUSEUM RADYA PUSTAKA

By Susiyanto / Published on Saturday, 14 Nov 2015 02:20 AM / No Comments / 1745 views

 

Susiyanto, M.Ag.

 

Dalam rangka memperingati  Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 H, Museum Radya Pustaka, Surakarta menggelar Pameran Pustaka Jawa Bernuansa Islam. Dalam perhelatan ini pihak panitia menghadirkan 8 (delapan) naskah klasik untuk disaksikan oleh pengunjung. Kedelapan naskah yang dipamerkan ini hanya merupakan sebagian kecil dari naskah milik Museum Radyapustaka yang bernafas Islam. Ada pun manuskrip-manuskrip yang dipamerkan antara lain (1). Serat pandhita Raib; (2). Serat Yusuf; (3). Serat Nawawi; (4). Serat Nitimani; (5). Suluk Warni-wani Tuwin Wirid Syattariyah; (6). Cariyos Dajal utawi Kadis Kawandasa; (7). Kur’an Kajawekaken; dan (8). Al Quran tulisan tangan yang berasal dari abad XVIII.

Di bawah ini adalah rincian dari karya-karya tulis klasik bernuansa Islam yang dipamerkan dalam acara tersebut.

  1. SERAT PANDHITA RAIB
Serat Pandhita Raib
Serat Pandhita Raib

Manuskrip “Serat Pandhita Raib” merupakan karya Kyai Sastradiwangsa. Ditulis di atas kertas dluwang gendhong, yaitu kertas yang dibuat dari kulit kayu yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.

Naskah bertema Sejarah Islam ini menceritakan tentang pertempuran Nabi Muhammad dengan seorang pendeta Agama Yahudi bernama Pandhita Raib dari Negeri Kebar. Penyebab pertempuran ini, sang pendeta berupaya mempengaruhi penduduk Kebar agar  menjauh dari Islam dan memurtadkan mereka ke dalam ajaran Yahudi. Pada akhir pertempuran sang pendeta digambarkan menyerah kepada Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Penulisan karya sastra ini nampak diinspirasi oleh konflik antara umat Islam dengan kaum Yahudi yang tinggal di sekitar oasis Khaibar, sekitar 150 km dari Madinah.

Selain itu naskah ini juga membahas tentang sifat-sifat Nabi Muhammad. Juga terdapat bagian dimana Nabi Muhammad dikisahkan sedang menyampaikan ajaran kepada putrinya, Fatimah tentang kewajiban ibadah dan tugas wanita muslimah terutama sebagai seorang istri. Penulisan naskah ini dimaksudkan sebagai sastra panulakan (berfungsi untuk tolak balak).

  1. SERAT YUSUF
Serat Yusuf
Serat Yusuf

Serat Yusuf boleh dikatakan sebagai manuskrip tertua yang dimiliki oleh Museum Radya Pustaka. Koleksi ini ditulis pada jaman Keraton Kartasura atas perintah Kanjeng Ratu Balitar, permaisuri Pakubuwana I (r. 1703-1719) dengan maksud untuk menyelamatkan suksesi cucunya sehingga bisa menjabat sebagai Pakubuwana II (1726-1749). Penulisnya adalah seorang abdi dalem Pamijen kasepuhan ketika menjaga gerbang Keraton Kartasura. Naskah ini ditulis dengan menggunakan aksara Jawa pada tahun 1729. Terdiri dari 206 halaman dengan ukuran 34×26 cm. Kertas yang digunakan adalah dluwang gendhong. Pada bagian awal naskah terdapat iluminasi dengan yang dibuat dengan tinta warna hitam, merah, dan keemasan. Serat Yusuf ini isinya bercerita tentang kisah Nabi Yusuf yang dipetik dari kitab suci Al Quran.

  1. SERAT NAWAWI
Serat Nawawi
Serat Nawawi

Serat Nawawi merupakan karya yang ditulis pada tahun 1884. Berisi kumpulan 3 (tiga) bagian tulisan tentang sejarah Islam, Ilmu Kenegaraan, dan Bahasa Jawa terutama tentang hakikat huruf. Bagian pertama menceritakan tentang etika Islam yang diajarkan oleh tokoh sufi bernama Ibrahim bin Adham (dalam karya sastra ini ia disebut sebagai seorang Sultan). Juga berisi ajaran untuk para pemimpin, kisah-kisah Nabi dan orang-orang shalih.

Bagian kedua dari kitab ini berisi tentang nitipraja yaitu ilmu kenegaraan. Bagian ini ditulis dengan menggunakan metrum tembang Macapat. Sedangkan bagian ketiga berisi mengenai carakabasa berupa penjelasan tentang makna dan hakikat yang terkandung dalam huruf Jawa.

  1. SERAT NITIMANI
Serat Nitimani
Serat Nitimani

Serat Nitimani adalah karya Raden Mas Harya Sugonda pada tahun 1892 di Pasuruan, Jawa Timur. R.M.H. Sugonda adalah anak dari Mangkunegara IV yang diamanahi menjabat sebagai bupati Pasuruhan pada tahun 1887 hingga 1903. Manuskrip ini terdiri dari 384 halaman dengan ukuran 33×21 cm.

Isinya berupa risalah prosa tentang seksualitas, fisiognomi perempuan, mistisisme Islam-Jawa (termasuk memuat pembahasan tentang Hidayat Jati karya Muhammad Sirollah), pengetahuan Islam, dan tradisi asketisme. Pembahasan kandungan ajarannya menggunakan bentuk dialogis antara tokoh bernama Murwèng-gita dan seorang penanya yang disebut Juru Patanya (= juru bertanya).

 

  1. SULUK WARNA-WARNI TUWIN WIRID SYATTARIYAH
Suluk Warna-warni utawi Wirid Syattariyah
Suluk Warna-warni utawi Wirid Syattariyah

Karya tulis ini merupakan kumpulan dari 29 suluk  yang berisi pengajaran tasawuf dari tradisi tarekat syattariyah. Tarekat Syattariyah ini merupakan aliran tarekat yang biasa diamalkan oleh anggota istana Kasunanan Surakarta. Naskah ini ditulis oleh Radyan Panji Jayaasmara pada tahun 1864. Naskah ini dibuat atas perintah K.G.P.H. Cakraningrat yang merupakan menantu Sunan Pakubuwana VI dan sekaligus murid R. Ng. Ranggawarsita.

Naskah ini terdiri dari 472 halaman dengan ukuran 32×20 cm.  Berisi mengenai ajaran, tradisi, dan silsilah tarekat Syattariyah. Ditulis dengan menggunakan aksara Jawa (carakan) dan beberapa bagian ditulis menggunakan aksara Arab Pegon (Aksara Jawi).

Tarekat Syattariyah yang biasa dianut oleh kalangan bangsawan Kraton Surakarta ini merupakan sebuah aliran tarekat yang telah lama tumbuh di Iran dan Turki dengan nama tarekat Isqiyah. Konon, tarekat ini memiliki ajaran yang mudah beradaptasi dengan kebudayaan yang menjadi tempat persebarannya. Seiring perkembangan jaman, tarekat ini lantas muncul di India pada abad XV dan dikenal dengan sebutan tarekat Syattariyah karena dibawa oleh seorang ulama bernama Abdullah Asy Syattari. Dari sinilah, aliran tasawuf ini lantas menyebar ke berbagai negara termauk Nusantara. Pada waktu itu hampir semua kerajaan Islam di Jawa dan Sumatra menggunakan ajaran tarekat ini.

 

  1. CARIYOS DAJAL UTAWI KADIS KAWANDASA
Cariyos Dajal utawi Kadis Kawandasa
Cariyos Dajal utawi Kadis Kawandasa

Dunia kejawen memang sering memberi kejutan-kejutan yang unik dan mengesankan. Kitab bernama “Cariyos Dajal utawi Kadis Kawandasa” (artinya:”Cerita tentang Dajjal atau Hadits empat puluh”) ini salah satu contohnya. Karya keagamaan ini ditulis dengan menggunakan huruf Jawa carakan (hanacaraka), namun uniknya menggunakan Bahasa Arab. Jadi, bisa dikatakan berbahasa Arab namun ditulis dengan menggunakan aksara Jawa.

Di bawah setiap baris tulisan berbahasa Arab, disisipkan terjemahan dalam Bahasa Jawa menggunakan huruf Jawa yang ukurannya lebih kecil. Terjemahan ini berfungsi sebagai penjelasan bagi masyarakat Jawa yang tidak mampu mengakses Bahasa Arab.

Kitab yang ditulis pada tahun 1845 dalam 45 halaman ini, menceritakan kepada masyarakat Jawa tentang fitnah akhir jaman berupa kedatangan dajjal-laknat. Selain itu karya berukuran 31×20 cm ini juga mendiskusikan 40 (empat puluh) tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi dilengkapi dengan hadits-hadits Nabi Muhammad saw.

 

  1. KUR’AN KAJAWEKAKEN

Kur’an Kajawekaken atau juga disebut Kur’an Jawi merupakan kitab yang berisi terjemahan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Tulisan yang digunakan tentu saja adalah tulisan Jawa. Proses penerjemahan ini dilakukan oleh Bagus Ngarpah, seorang ulama abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta. Karya Bagus Ngarpah ini kemudian diedit untuk merampingkan kalimat-kalimatnya oleh Ngabèi Wirapustaka, seorang abdi dalêm mantri Radyapustaka di Surakarta pada tahun 1835 hingga 1905.

Kur'an Kajawekaken
Kur’an Kajawekaken

Penulisannya menggunakan aksara Jawa dimulai pada 30 Juni 1905 oleh Suwonda. Penulisan juga dilakukan oleh Ki Ranasubaya, abdi dalêm jajar nirbaya kaparak têngên, yang bekerja di kantor Radyapustaka. Terjemahan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa ini telah diselesaikan sebanyak 30 Juz. Perlu dipahami, karya monumental ini hanya berupa penerjemahan saja. Sementara teks Al Quran-nya tidak dicantumkan.

Babad Wedyadiningratan, sebuah karya sastra yang menceritakan perjalanan hidup Rajiman Wedyadiningrat – seorang tokoh Nasional Indonesia, pernah mengupas tentang karya penerjemahan kitab suci ini. Konon, keberadaan Kur’an Jawi ini sempat menjadi perdebatan di kalangan masyarakat muslim Jawa. Awalnya, wacana digulirkan dalam sebuah artikel yang ditulis oleh R.M. Suleman, seorang pensiunan Jaksa di sebuah surat kabar berbahasa Jawa. Namun selanjutnya muncul perdebatan besar yang mempertanyakan keabsahan terjemahan Al Quran tersebut. Dalam anggapan masyarakat Jawa pada masa itu, Al Quran itu tidak boleh diterjemahkan dan harus tetap dalam Bahasa Arab untuk menjaga kemurnian dan keasliannya. Bagus Ngarpah dituduh telah mengubah Al Quran dengan melakukan penerjemahan ini.

R.M. Suleman sendiri semakin keras mengkritik Bagus Ngarpah. Sementara Bagus Ngarpah hanya mendiamkan saja masalah ini karena menganggap perdebatan semacam itu kurang berguna. Rajiman Wedyodiningrat lantas menengahi agar konflik itu tidak menjadi semakin besar. Bagus Ngapah lantas mengutarakan bahwa penerjemahan tersebut dilandasi oleh keinginan kuat agar Al Quran lebih mudah dan lebih luas dipahami oleh masyarakat Jawa. Penerjemahan Al Quran itu sendiri telah diselesaikan 30 juz sebelum perdebatan-perdebatan semacam ini membesar. Sayangnya, versi cetakan terjemahan Al Quran ini hanya sempat diselesaikan hingga 8 juz (terdiri dari 8 buku) saja akibat kericuhan yang terjadi. (Lihat: R. Ng. Dutadilaga (ed.), Babad Wedyadiningratan, Surakarta: Marsch, 1938, hlm. 37-38). Hal ini tentu saja kemudian disesalkan oleh banyak pihak. Meski demikian, karya penerjemahan ini masih ada dan tersimpan menjadi salah satu koleksi di Museum Radya Pustaka Surakarta.

  1. AL QURAN TULISAN TANGAN DARI ABAD XVIII
Al Qur'an Tulisan Tangan dari Abad XVIII
Al Qur’an Tulisan Tangan dari Abad XVIII

Karya terakhir yang dipamerkan dalam perhelatan ini adalah Al Quran tulisan tangan. Penyalinan Al Quran ini yang diselesaikan hingga 30 juz pada abad XVIII. Tidak ada keterangan tentang identitas penyalinnya, tetapi setidaknya menunjukkan kepada generasi Islam masa kini tentang kegigihan para pedahulunya dalam mengkaji Islam. Saat kitab suci tidak mudah diketemukan dalam wujud cetakan, maka mereka bersemangat untuk menggandakannya dengan mengandalkan penulisan tangan.

Melalui pameran semacam ini harapannya hasil-hasil karya naskah klasik bernuansa Islam akan semakin dikenal oleh masyarakat. Dengan adanya berbagai upaya semacam ini diharapkan nilai-nilai yang terkadung dalam manuskrip Islam di Nusantara tidak akan terbengkelai atau bahkan musnah dari ingatan bangsa. Dengan demikian umat Islam di Indonesia tidak akan kehilangan jejak sejarah dan warisan masa lalunya. Sebab dari sanalah bangsa kita bisa merujuk ulang tentang bagaimana identitas pendahulu kita terbentuk dan diwariskan dari generasi ke generasi. [Susiyanto]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *