Scroll to Top

GERAKAN MELAWAN SISTEM TANAM PAKSA DI SURAKARTA

By Susiyanto / Published on Thursday, 12 Sep 2013 23:34 PM / No Comments / 3739 views
Sistem Tanam Paksa (Sekedar illustrasi)
Sistem Tanam Paksa (Sekedar illustrasi)

Pasca Perang Diponegoro (1825-1830) pemerintah kolonial Belanda mulai mengintensifkan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) di Jawa. Sistem ini berupaya mengembangkan tanaman produktif yang bisa menjadi komoditas Belanda di pasaran dunia. Tujuannya, untuk mengisi kekosongan kas pemerintah Belanda yang kosong diantaranya akibat digunakan untuk pembiayaan menumpas sejumlah perlawanan di nusantara.

Penderitaan rakyat akibat sistem tanam paksa memunculkan berbagai perlawanan. Meskipun tidak sebesar perlawanan Pangeran Diponegoro, namun tetap saja merepotkan. Pederitaan rakyat hampir merata oleh karenanya letupan perlawanan juga hampir tersebar di seantero Jawa dan pelosok tanah air lainnya. Perlawanan ini dalam banyak kasus merupakan perjuangan yang menggunakan ajaran Islam sebagai basis gerakannya.

PERLAWANAN FISIK

Klaten, Jawa Tengah adalah salah satu basis perlawanan terhadap kebijakan tanam paksa. Seperti halnya perjuangan Diponegoro, mobilisasi rakyat ini juga berlandaskan semangat jihad dari ajaran Islam. Gerakan ini dipimpin oleh Mangkuwijoyo dari Desa Merbung pada tahun 1865. Desa Merbung yang terletak di sebelah barat kota Klaten memang sejak lama telah menjadi tempat berkumpul para petani yang ingin memperjuangkan nasibnya. Seorang penyewa lahan berkulit putih bernama J. Jozes terbunuh dalam kerusuhan yang terjadi pada tahun 1834. Sentimen terhadap penjajah meningkat seiring terbentuknya semangat untuk mengusir mereka dari Klaten. Gerakan ini bukan sekedar terwujud akibat beban pajak dan dominasi Barat, namun juga disemangati oleh spirit ajaran Islam.

Perlawanan Mangkuwijoyo ini dibantu oleh H. Misani dan Jogoplo (Kertojiwo). H. Misani adalah seorang pengembara yang berasal dari dukuh Krapyak, desa Pesantren di Karesidenan Kedu. Di tempat asalnya ia dikenal sebagai seorang guru. Sedangkan Jogoplo adalah seorang petani yang berasal dari desa Kretek, distrik Klaten. Gerakan ini juga mendapatkan bantuan dari bêkêl desa Merbung yang bernama Ronodimejo.

Berita perlawanan Mangkuwijoyo itu tersebar luas hingga ke Pekalongan pada akhir Juli 1865. Desas-desus tersebar luas dan dalam beberapa hari pecah perang yang dimulai dari Surakarta. Para Ulama dan santri yang berasal dari Pekalongan dan Brebes merencanakan untuk bergabung dalam gerakan tersebut. Namun perlawanan Mangkuwijoyo tidak berhasil. Ia bersama 15 pengikutnya ditangkap oleh Belanda. Mangkuwijoyo sendiri ditemukan meninggal pada 8 Juli 1865 dalam kamar tahanan benteng Surakarta.

Perlawanan selanjutnya yang penting disorot adalah Gerakan Srikaton yang terjadi pada 11-12 Oktober 1888 di Surakarta. Gerakan ini dipimpin oleh Sariman atau dikenal dengan sebutan Imam Rejo. Ia lahir di desa Kadipiro dan setelah dewasa pindah ke desa Klangon. Pada masa selanjutnya tokoh keturunan penguasa desa ini menetap di desa Girilayu. Di tempat tinggal barunya ini ia menjadi juru kunci makam dinasti Mangkunegaran. Masyarakat di sekitar Girilayu mengenalnya sebagai seorang santri bernama Abdul Gani.

Imam Rejo adalah tokoh yang taat beribadah. Ia memiliki banyak murid. Mereka  diajari ibadah shalat dan juga cara baca-tulis huruf Arab. Ia meminta para pengikutnya agar taat beribadah karena itu merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pengikutnya juga dihimbau untuk mempersiapkan diri untuk berjihad melawan orang kafir dan memurnikan ajaran Islam. Karena sifat gerakannya yang merakyat dan sesuai dengan kepentingan masyarakat pedesaan, maka ia banyak didukung oleh sejumlah bêkêl dari sekitar Gandalayu. Perlawanan Imam Rejo sendiri tidak berhasil. Ia tewas ditembak bersama istri dan anak perempuannya  oleh legion Mangkunegaran yang terdiri dari 30 orang dragonder.

GERAKAN NON FISIk

Selain gerakan yang mengarah pada perlawanan fisik, “revivalisme” adalah tipe gerakan yang cukup kentara di sekitar era tanam paksa. Model gerakan ini berupaya untuk menghidupkan kembali ajaran agama. Rakyat diharapkan akan lebih rajin menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Menurut penelitian DR. Suhartono, akademisi di Universitas Gajah Mada (UGM), secara geografis gerakan kembali kepada ajaran Islam penyebarannya meliputi wilayah bagian barat Karesidenan Surakarta seperti Boyolali, Klaten, dan Kartosuro. Sedangkan di wilayah timur timbul di Sragen dan Kalioso. Juga di sebelah utara yang berbatasan dengan Karesidenan Semarang. (Lih. Suhartono, Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta 1830-1920, Tiara Wacana: Yogyakarta, 1991).

Di Boyolali gerakan kembali kepada ajaran Islam dipimpin oleh Suradi atau R.M. Kapiten pada tahun 1871. Sedangkan di desa Jatinom, Klaten diwakili oleh gerakan Alisuwongso pada tahun 1881. Kedua gerakan ini ditandai dengan penyebaran tulisan-tulisan yang bersumber dari Al Quran dan Hadist di masjid-masjid. Isinya secara umum bertujuan mengajak masyarakat agar lebih rajin dan taat beribadah.

Di Klaten, gerakan kembali pada ajaran Islam dipimpin oleh Haji Subuh dari desa Kajoran pada tahun 1881 dan Joyowilogo pada tahun 1900. Sedangkan di Kartosuro dipimpin oleh Sariman dari desa Ketitang pada tahun 1885. Jadi pada masa ini gerakan yang mengarah pada kebangkitan keagamaan lebih banyak terjadi di daerah penghasil tebu dan kopi.

Di bagian timur karesidenan Surakarta, gerakan kembali kepada Islam lebih sedikit ditemukan daripada di bagian barat. Di Sragen terdapat gerakan Mangundirjo yang membentuk jaringan guru-guru agama. Wilayah cakupan gerakan ini bahkan sampai ke Madiun dan Kediri. Gerakan ini dimulai pada tahun 1888. Sedangkan di perbatasan Madiun sendiri terdapat gerakan Prawirodimejo dan Demang Arjoprawiro pada masa ini.

Sedangkan di bagian utara Surakarta gerakan pemurnian agama  terjadi di Kalioso pada tahun 1895. Di daerah Serang, gerakan ini dipimpin oleh Projojoyo pada tahun 1871 dan Nibdo Besari, Kyai Onggoyudo, dan Kyai Majastro pada tahun 1885. Gerakan yang terjadi di daerah Serang ini merupakan perluasan gerakan yang berasal dari Karesidenan Semarang karena para pemimpinnya berasal dari sana.

Dari berbagai gerakan di atas dapat diketahui bahwa ajaran Islam telah memberi spirit perjuangan bagi bangsa Indonesia. Konsep jihad telah memainkan peranan yang cukup sentral dalam menjaga dan mengawal hingga tercapainya kemerdekaan di Indonesia. Penderitaan yang berlarut akibat sistem tanam paksa sekali pun ternyata tidak mampu menggusur semangat untuk merdeka dan bebas dari pengaruh asing. Hal ini hanya bisa tercapai ketika semangat Islam masih mengakar di dada rakyat. [Susiyanto]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *