Scroll to Top

MELACAK KEARIFAN DAKWAH DI MASJID “MENARA KUDUS”

By Susiyanto / Published on Friday, 17 Oct 2014 15:43 PM / No Comments / 2129 views

Anda pernah berkunjung ke kota Kudus, di Jawa Tengah? Kota ini dikenal memiliki beraneka ragam peninggalan sejarah dan kebudayaan Islam. Kudus disebut-sebut sebagai kota wali, sebab di sinilah Sunan Kudus berkarya memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat. Selain menyaksikan masjid kuno dengan bentuk arsitektur yang unik, beragam jajanan khas juga layak dinikmati. Tentu sambil mereguk hikmah dengan mengenang perjuangan umat di masa lalu.

MASJID AL AQSHA DI NEGERI AL QUDS

Masjid Al Aqsha atau dikenal dengan sebutan Masjid Menara Kudus
Masjid Al Aqsha atau dikenal dengan sebutan Masjid Menara Kudus

“Masjid Menara Kudus”, demikian orang-orang menyebut namanya. Keberadaan masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus ini memang tidak bisa dipisahkan dari kota Kudus.  Bagi kota wali ini Menara Kudus telah menjadi salah satu ciri khasnya. Awalnya masjid ini diberi nama “Masjid Al Aqsha”. Nama ini pula yang terpampang di atap bagian depan masjid dalam wujud tulisan Arabic. Namun agaknya banyak yang kurang familier dengan sebutan ini. Beberapa peziarah dan pedagang di sekitar Menara Kudus yang penulis ajak bercakap-cakap, umumnya mengaku kurang “mengenal” nama masjid “Al Aqsha”. Umumnya mereka lebih akrab dengan sebutan “Masjid Menara” atau “Menara Kudus”.

Nama masjid itu sendiri sebenarnya tercatat dalam sebuah prasasti yang dapat ditemukan terpasang di bagian atas mihrab. Tulisan pada batu tersebut menyebutkan bahwa masjid itu bernama “Masjid Al Aqsha di negeri Al Quds”. Bunyi lengkap prasasti tersebut adalah sebagai berikut:

Prasasti pembangunan masjid yang terletak di atas mihrab Masjid Al Aqsha, Kudus
Prasasti pembangunan masjid yang terletak di atas mihrab Masjid Al Aqsha, Kudus

Bismilahi ar rahman ar rahiim. Aqaama bina al masjid al aqshaa wal balad al quds khaliifatu haadza ad dahr habru Muhammad yasytari … (tidak terbaca) izzan fi jannah al khuldi … qurban min arrahman bi balad al Quds … (tidak terbaca) … ansya-a haadza al masjid al manar … (tidak terbaca) al musammaa bi al aqshaa khaliifatu Allahi fi al ardlii … al ‘ulya wa al mujtahid as sayyid al ‘arif al kamil al fadhil al maksus bi ‘inaayati … al qaadli Ja’far ash Shadiq … sanah sittin wa khamsiina wa tis’im miatin mina al hijrah an nabawiyyah wa shalallahu ‘ala sayyidinaa Muhammadin wa ashhaabihii ajma’iin” …

(Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Telah mendirikan masjid Al Aqsha ini dan negeri Al Quds (Kudus), khalifah dari keturunan nabi Muhammad untuk membeli … kemuliaan surga yang abadi …qurban untuk Ar Rahman di negeri Al Quds (Kudus) … masjid al manaar (menara) ini dinamakan al aqshaa khalifah Allah di bumi … yang Tinggi dan pembaharu, tuan, yang arif, sempurna, melebihi, yang dikhususkan, …dengan inayah hakim Ja’far Shadiq … pada 956 hijrah Nabi Muhammad saw).

Bentuk Masjid Al Aqsha di Kudus tergolong unik. Bangunan awal masjid itu lebih mirip candi dibandingkan masjid itu sendiri. Nampaknya, arsitektur masjid tersebut sengaja dirancang sebagai bentuk pendekatan kepada masyarakat yang masih kental dengan pengaruh indianisasi. Keberterimaan awal masyarakat merupakan bagian yang penting untuk diusahakan agar bisa mendulang kesuksesan dakwah. Dengan bentuk masjid yang lebih mirip bangunan lama yang tersusun dari batu-bata lebih memudahkan masyarakat menerima keberadaannya. Bangunan menara ini sejatinya menjadi penghubung antara  “alam berpikir lama” dengan “nalar baru” yang bersifat membebaskan dan sekaligus menyelamatkan.

Ukiran kayu dari sebuah rumah di Kudus. Konon seni ukir ini merupakan pengaruh dari Kyai The Ling Sing, seorang muslim China.
Ukiran kayu dari sebuah rumah di Kudus. Konon seni ukir ini merupakan pengaruh dari Kyai The Ling Sing, seorang muslim China.

Nama “Kudus” sendiri baru dikenal setelah proses pengislaman berlangsung. Sebelumnya, wilayah ini dikenal bernama “Tajug” yang berarti “rumah dengan atap berbentuk runcing”. Menurut De Graaf, pembinaan terhadap wilayah Tajug mula-mula dilakukan oleh seorang Muslim Cina bernama The Ling Sing yang dalam lidah masyarakat setempat dikenal sebagai Mbah Telingsing. The Ling Sing sendiri selanjutnya menetap di Juwana. Rumah-rumah awal di Tajug umumnya memiliki ciri-ciri seperti rumah atau kelenteng Cina yang beratap runcing. Sebagian rumah-rumah kuno di Kudus masih memiliki gaya demikian. Konon, dari The Ling Sing ini pula masyarakat kota Kudus mempelajari seni ukir kayu.

Ja’far Shadiq yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus lantas mengubah nama “Tajug” menjadi “Al Quds” atau selanjutnya dalam lidah Jawa menjadi Kudus. Ja’far Shadiq diyakini mendapat inspirasi untuk penamaan masjid dan wilayah itu sesuai dengan nama Masjid Al Aqsha yang terdapat di kota Al Quds, Palestina. Ada dugaan bahwa ia pernah berkunjung ke Palestina. Bahkan ada teori yang menjelaskan bahwa dirinya merupakan mubaligh yang berasal dari Palestina.

Teori yang disebutkan terakhir tentu bukan tanpa bantahan. Dinyatakan bahwa Sunan Kudus adalah asli Jawa atau setidaknya lahir di Jawa. Beliau adalah putra dari Sunan Ngundung (Sayyid Utsman Haji) yang makamnya terdapat di kompleks pemakaman Tralaya di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Ada pula bantahan bahwa Sunan Kudus merupakan anak Sunan Ngundung. Keduanya dikatakan sekedar memiliki hubungan sebagai guru dan murid. Berbicara tentang versi, tentu akan banyak ditemukan varian teori yang lain. Misalnya, ada yang menyebutkan bahwa Sunan Kudus adalah mubaligh dari Persia dan lain sebagainya. Manakah dari semua teori ini yang benar?

Iwan Mahmoed, seorang ahli nasab keturunan Sultan Fattah (Kasultanan Demak Bintoro), menjelaskan bahwa secara nasab Sunan Kudus merupakan anak dari Utsman Haji (Sunan Ngundung). Ada pun urutan nasab tersebut adalah sebagai berikut : Sunan Kudus bin Raden Utsman haji bin Sayyid Fadhol Ali Murtadho bin Ibrahim Zaenuddin Al Akbar As-Samarqandi bin Husein Jamaludin Jumadil Kubro bin Ahmad Syah jalaluddin bin Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan Alhusaini bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Marbat bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi Tsani bin Muhammad Maula Ashauma’ah bin Alwi Al Mubtakir bin Ubaidilah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad Annaqib bin Ali Al Uraidhi bin Jakfar shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Sayyidina Husein binti Fatimah binti Rasulullah SAW. Beliau merupakan seorang ulama’ ahlu shunnah, bukan syi’ah. Jalur nasab ini dengan sendirinya membuktikan pernyataan yang tertulis dalam prasasti bahwa tokoh Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) yang membangun Masjid Al Aqsha di Kudus merupakan “khaliifatu haadza ad dahr habru Muhammad” (khalifah dari keturunan Nabi).

BUKTI TOLERANSI AGAMA

Kudus merupakan kota yang telah diperhitungkan dalam penyebaran Islam sejak lama. Sya’ir Hamzah Fanshuri, seorang sufi Melayu abad XVI hingga XVII, menyebutkan bahwa untuk belajar ilmu Tauhid tidak harus berangkat ke Makkah jika tidak memiliki kemampuan. Namun cukup belajar dengan ulama-ulama dari mulai dari Barus hingga Kudus. Barus adalah sebuah kota di Sumatra Utara tempat Hamzah Fanshuri tinggal dimana perekonomian kota tersebut ditopang oleh keberadaan pelabuhan. Sedangkan Kudus adalah sebuah kota yang berada di Pulau Jawa.

Sunan Kudus termasuk ulama yang tegas dalam menjalankan syari’at Islam. Namun sang wali juga berupaya memberikan penghormatan yang layak bagi penduduk setempat yang mayoritas masih menganut Hindu. Dalam mendakwahkan Islam, Sang Sunan menganjurkan agar pengikutnya tidak menyembelih sapi dalam pesta-pesta hajatan. Sebagai gantinya mereka bisa menyembelih kerbau. Hal ini perlu dilakukan demi menjaga perasaan umat Hindu yang berkeyakinan bahwa sapi merupakan binatang suci yang harus dihormati. Melalui strategi ini Sunan Kudus berkesempatan mengangkat kisah-kisah dan petuah luhur yang berasal dari isi Al Quran Surat Al Baqarah yang secara khusus sebagian isinya membicarakan kisah tentang penyembelihan sapi betina.

Nampak pengunjung sebuah kedai sedang menikmati masakan khas Soto Kerbau
Nampak pengunjung sebuah kedai sedang menikmati masakan khas Soto Kerbau

Himbauan Sunan Kudus itu rupanya masih dipelihara hingga kini terutama oleh kalangan tua-tua. Makanya, meskipun soto merupakan salah satu kekhasan Kudus, namun sulit rasanya menemukan penjual Soto daging sapi. Sebagai gantinya dengan mudah dapat ditemukan Soto Ayam atau yang lebih khas adalah Sate Kerbau dan Soto kerbau. Konon, karena himbauan ini pula di Kudus jarang bisa ditemui profesi sebagai jagal sapi sampai hari ini. Meski demikian kalangan muda mulai banyak yang mengabaikan “larangan” ini.

Kepercayaan yang tersisa ini tentu merupakan bagian dari proses dakwah yang belum selesai. Proses pengislaman akan terus mengalami penyempurnaan secara berangsur-angsur di tangan para da’i pada masa berikutnya. Para anggota majelis Wali Sanga saja ketika mengadopsi wayang sebagai media dakwah juga tidak pernah melepaskan pemikiran strategis. Dalam wayang Jawa misalnya dikenal sosok Bathara Guru, raja para Dewa di Kahyangan yang digambarkan selalu berdiri di atas seekor sapi. Dalam penampilannya, sosok penguasa kahyangan ini selalu digambarkan memiliki sejumlah kelemahan. Secara fisik, ia tidak mampu berjalan sendiri karena memiliki kaki apus (semacam penyakit dimana kaki tidak mampu digunakan berjalan, apus = menipu, palsu), tidak jarang keputusannya dinilai kurang bijak, sering dikalahkan oleh para denawa (raksasa) sehingga harus meminta bantuan kepada manusia (satria) untuk memperbaiki keadaan, sering berbuat kesalahan, tunduk kepada Semar (abdi kelas rendah dari wangsa Pandawa), dan sebagainya. Eloknya, raja para dewa yang jauh dari kesan sosok sempurna itu digambarkan mengendarai seekor sapi betina bernama Andini sebagai tumpuan kakinya. Di sini sapi bukan lagi berperan sebagai hewan suci melainkan sekedar jadi pijakan kaki. Nampak bahwa hal ini merupakan simbolisasi dari proses demitologisasi dan desakralisasi terhadap pemujaan kuasa dewa dalam pantheon Hindu maupun kesucian sapi, sebagaimana dipraktikkan oleh sebagian penduduk Jawa era itu.

Oleh karena itu, jika motif awal himbauan tidak menyembelih sapi lebih didasarkan kepada toleransi, sudah tentu dalam era yang lebih terbuka ini, himbauan tersebut sudah tidak lagi relevan untuk diterapkan. Boleh dikatakan mayoritas penduduk Kudus saat ini telah menganut agama Islam, sementara Hinduisme hanya dianut puluhan orang saja. Tentu menjadi tanggung jawab da’i muslim untuk mengubah pola pikir masyarakat guna mengamalkan Islam secara lebih kaffah. Toh, sebagaian masyarakat Kudus juga telah berubah penilaiannya terhadap “kesakralan” hewan ternak bernama sapi. Tentu, kita tidak harus memelihara “pegangan” dari sisa sejarah yang menghalau dan membatasi langkah. Meski dalam nama kearifan lokal (local wisdom) sekalipun. [Susiyanto]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *