Scroll to Top

MENJERNIHKAN REPUTASI NABI ISMAIL

By Susiyanto / Published on Thursday, 28 May 2015 02:20 AM / No Comments / 1511 views

Susiyanto, M.Ag

Sekedar Illustrasi
Sekedar Illustrasi

Reputasi Nabi Ismail di kalangan Kristen, tidak jauh-jauh dari kesan sebagai anak Ibrahim dari seorang budak mesir bernama Hajar yang kelahiran bukan atas kehendak Illahi. Karakternya selalu dicitrakan sebagai “Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya” (Kejadian 16: 12). Ayat ini sering digunakan untuk melegitimasi anggapan bahwa kehidupannya seolah-olah telah dinubuatkan oleh nash Perjanjian Lama selalu akrab dengan kejahatan. Reputasi buruk yang diproyeksi melalui bias politisasi teks di kalangan kaum misionaris ini berkembang akibat trauma sejarah Perang Salib. Bahkan kesan ini sengaja terus dipelihara untuk memberi makna baru terhadap konteks pertarungan politik global dengan memposisikan Islam sebagai ideologi terorisme.

Lepas dari kepentingan yang dimainkan, paradigma negatif tentang Ismail dalam Perjanjian Lama adalah produk fabrikasi. Ideologi penterjemahan berperan besar dalam menciptakan imajinasi yang terdistorsi tentang Ismail. Menachem Ali, dosen Filologi Islam Asia Tenggara dan Studi Semitic (Southeast Asian Islamic Phililogy and Semitic Studies) di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, menemukan bahwa Bibel berbahasa Ibrani telah diterjemahkan secara keliru sehingga – salah satu konsekuensinya – membentuk citra buruk Ismail tersebut. (Menachem Ali, Ishmael dalam Mushaf Masorah ben Asher dan Naskah Khirbet Qumran, Surabaya: The Yeshiva Institute, 2014, p. xxii)

Tidak dipungkiri, terdapat sebagian kaum Nasrani yang mendudukkan Ismail dalam reputasi baik. Namun, hal ini terbatas pada kelompok berkeyakinan sektarian dan bukan mainstream. United Church of God (UCG), misalnya, sekte Kristen ini berpendapat bahwa ungkapan “keledai liar” yang disematkan pada Ismail bukan dimaksudkan sebagai penghinaan. Menurut tafsiran mereka, “keledai liar” artinya aristokrat dari kehidupan liar di padang pasir, yang dianggap sebagai mangsa oleh para pemburu. Keturunan Ismail digambarkan bergaya hidup layaknya keledai liar dalam membela kebebasan dan eksistensi kehormatan mereka di alam gurun.

Ungkapan “tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia” membeberkan gambaran tentang bagaimana mereka mempertahankan diri dari dominasi negeri-negeri asing lainnya. Sedangkan ungkapan “di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya” menggambarkan eksistensi bangsa Arab secara historis dalam hubungannya dengan bangsa Arab atau sesama keturunan Ibrahim. (The Middle East in Bible Prophecy, USA: United Church of God, 2012, p. 9-10). Meski demikian United Chuch of God, sebagaimana arus utama pemikiran sekte kekristenan lainnya, menempatkan Ishak lebih utama dibanding Ismail.

Citra Ismail yang terbentuk demikian, tidak lepas dari penerjemahan yang bermasalah. Dalam kitab Kejadian 21: 12 dapat diamati seolah-olah berbicara tentang hak istimewa Ishak sebagai keturunan Ibrahim. Ayat selanjutnya, Kejadian 21: 13, membicarakan tentang Ismail yang meski merupakan keturunan Ibrahim namun dilepaskan dengan hak istimewa tersebut. Ayat yang dimaksud dalam terjemahan resmi Indonesia sebagai berikut:

 “Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak”. (Kejadian 21:12)

 “Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.” (Kejadian 21:13)

 Dari terjemahan di atas nampak adanya tujuan untuk memisahkan makna teks kedua ayat. Tujuan pemisahan ini untuk memberikan pengertian yang kontradiktif antara kedua kalimat dalam kedua nash tersebut, sehingga mengesankan pernyataan yang berbeda kepada pembaca. Penggunaan kata “namun” atau “tetapi” merupakan penghubung antarkalimat atau intrakalimat untuk menandai perlawanan dan sekaligus menyatakan pertentangan. (Menachem Ali, Ishmael dalam Mushaf …, p. 41).  Penafsiran semacam ini jelas akan menghasilkan pemaknaan yang mengesankan bahwa teks Kejadian 21: 13 dianggap sebagai teks yang berdiri sendiri.

Teks Kejadian 21: 12-13 versi Taurat Samaritan menunjukkan bahwa penerjemahan di atas keliru. Ungkapan aslinya adalah sebagai berikut:

 “ … ki be Yitzhaq yiqqare lekha zara’ ve gam et ben ha-amah hazot, le goy gadol asimenu: ki zar’e-kha hu”. (Sefer Bereshit 21: 12-13)

 Mestinya ayat di atas diterjemahkan: ” … karena dengan Ishak keturunanmu disebut dan juga anak dari hamba perempuanmu ini. Aku akan menjadikannya sebagai bangsa yang besar, karena dia pun keturunanmu.” (Kejadian 12: 12-13). Ayat di atas menegaskan kesejajaran posisi antara Ismail dan Ishak dengan menggunakan ungkapan ‘yiqqare lekha zara’ (benihmu disebut). Selain itu perlu dicermati penggunaan kata penghubung “vav” yang berarti “dan” yang digabung dengan kata keterangan “gam” yang berarti “juga”. Dalam Bahasa Ibrani konjungsi  vav dan keterangan gam tidak berdiri sendiri melainkan menjadi awalan dan cenderung berkaitan dengan kalimat berikutnya. (Menachem Ali, Ishmael dalam Mushaf …, p. 44)

Dengan mengamati model penerjemahan di atas, pembaca bisa memahami bahwa reputasi Nabi Ismail secara sengaja telah dipinggirkan, bahkan melalui upaya memalukan dengan mengubah makna dari kitab yang dianggap suci. Hak leluhur Nabi Muhammad tersebut disingkirkan sehingga terputus dari janji Allah yang diberikan kepada keturunan Ibrahim. Pada hakikatnya, memutus nasab Ismail sebagai benih Ibrahim merupakan sebuah rekayasa untuk menyingkirkan otoritas Islam sebagai millah Ibrahim itu sendiri. [SUSIYANTO]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *