Scroll to Top

“POTONG DI KUKU RASA DI DAGING” : SPIRIT PERSATUAN MELAWAN PENJAJAHAN DAN PEMURTADAN

By Susiyanto / Published on Monday, 23 Mar 2015 02:37 AM / No Comments / 1577 views
Potong di Kuku Rasa di Daging - Karya M. Noya
Potong di Kuku Rasa di Daging – Karya M. Noya

Judul               : Potong di Kuku Rasa di Daging

Penulis             : M. Noya

Penerbit           : Pusat Perbukuan Depdiknas – CV Ricardo, 2006

Tebal               : viii + 84 Halaman

ISBN               : 9793623896, 9789793623894

Jika sepintas lalu terpaku pada desain sampulnya, yang terlihat hanya sebuah buku berpenampilan relatif sederhana dan kaku. Judulnya pun, “Potong di Kuku Rasa di Daging“, membuat kening harus berkerenyit dan kurang mampu menerbitkan minat untuk membaca. Namun jangan salah, buah karya M. Noya ini ternyata merupakan terbitan dari naskah pemenang Sayembara penulisan naskah buku bacaan non-fiksi yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Depdiknas tahun 2003 dengan judul yang sama.

Bagi khalayak pembaca yang belum familier, ungkapan “Potong di Kuku Rasa di Daging” mungkin tidak berarti apa-apa. Lain halnya bagi masyarakat Maluku, untaian kata ini mewakili semangat persaudaraan yang tertanam kuat. Ungkapan filosofis ini tumbuh dan membesar dalam situasi perjuangan melawan penjajahan dan penyebaran agama Katolik oleh Portugis di bumi “Jazirah al-Mulk”.

Lengkapnya “Ingat pesan tatua, katong samua orang basudara, … potong di kuku rasa di daging, sagu dilempeng dipata pare dua“. Kalimat ini secara penuh mencerminkan makna filosofis bahwa setiap orang bersaudara, satu susah semua susah, satu senang semua senang, atau satu sakit semua sakit. Sebab katong semua bersaudara.” (p. 64-66). Kuku dan daging memang berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan. Demikianlah ungkapan ini lahir dari penderitaan dan sekaligus kebersamaan dalam menghadapi tantangan.

Awalnya kehidupan di “kepulauan rempah-rempah” (The Island of Spices) tersebut berlangsung penuh kedamaian sebelum kedatangan bangsa Eropa. Tanah ini digambarkan laksana bagai surga bagi mereka. Bila masa panen cengkih dan pala tiba, mereka akan teringat dengan ungkapan “Goyang pohon ringgit berguguran“. Hanya dengan menggoyangkan pohon, maka rizqi dari Allah berjatuhan. Hal ini menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan para petani yang bergantung pada komoditas rempah-rempah tersebut. (p. 47)

Ketika Portugis tiba di Pulau Aru, Ambon, dan Banda sekitar 1513, pada mulanya masyarakat Maluku menyambut mereka dengan keramahan, simpati, dan penuh hormat. Sebagaimana mereka selalu bersikap demikian dalam memuliakan tamu yang berkunjung. Orang-orang asing ini diijinkan mendirikan bangunan untuk menampung hasil bumi yang telah dibeli. Namun setelah bangunan selesai didirikan kondisi mulai berubah, di sampingnya mulai didirikan tembok pelindung dan akhirnya berubah menjadi benteng pertahanan. Mereka mulai menunjukkan keangkuhan dan kecongkakan serta melawan masyarakat setempat. (p. 50-51). Sambutan ramah mereka dikhianati bak ‘air susu dibalas tuba’.

Portugis mulai mencari-cari kesalahan masyarakat setempat dan melakukan tindakan sewenang-wenang. Pola serupa bukan hanya terjadi terhadap Kesultanan Ternate, Tidore di Maluku Utara, tetapi juga terjadi pada Kesatuan Hitu di Pulau Ambon, Kesatuan Hoamoal di Pulau Seram, kesatuan Iha di Pulau Saparua, dan kesatuan Hatuhaha di Pulau Haruku. Orang-orang Eropa ini bukan sekedar berupaya menanamkan kekuasaan, namun mulai memaksakan agama Nashrani kepada masyarakat setempat. Tidak heran, sebab mereka memang datang membawa misi gold, glory, dan gospel. (p. 51). Misi merampok kekayaan, menamamkan kekuasaan melalui penjajahan, dan sekaligus penyebaran agama Katolik.

Di Hatuhaha mereka awalnya diterima dengan baik. Namun tak berapa lama, mereka mulai bertingkah dengan memaksakan aturan monopoli pembelian hasil bumi. Masyarakat dilarang menjual pala, cengkih, dan hasil bumi lainnya kepada pedagang Sumatra, Makasar, atau Jawa. Itu artinya Portugis menghalang-halangi masyarakat setempat berhubungan dengan para pedagang nusantara lainnya. Padahal relasi diantara mereka telah berlangsung sejak lama, bahkan jauh sebelum masa kedatangan bangsa Eropa.

Di negeri Pelau, masyarakat pribumi dilibatkan dalam kerja paksa untuk membangun loji (gudang penyimpanan hasil bumi). Di negeri Rohomoni, rakyat diperbudak untuk membangun tempat tinggal bagi para pendeta Katolik. Dalam pekerjaan semacam ini masyarakat pribumi sering diperlakukan kasar dan tidak manusiawi. (p. 54)

Ironisnya selalu ada bagian dari bangsa yang berkhianat. Ada sebagian mereka yang berpihak pada portugis akibat telah menikmati “remah roti Eropa” atau mengikuti agama mereka. Tenaga dan jiwanya terbeli sehingga tega mengkhianati bangsa sendiri. Tangan dan kekuatan mereka siap dengan rela menjatuhkan sengsara bagi sesamanya. Memang dalam perjuangan selalu tidak sepi dari pengkhianatan.

Namun Islam telah tertanam kuat dalam jiwa sebagian besar anak negeri. Memberikan semangat dan menyatukan jiwa rakyat Maluku dalam perjuangan. Perlawanan rakyat timbul di bawah pimpinan para Sultan. Darah dan nyawa menjadi taruhan. Syahid mempertahankan kehormatan menjadi impian. Guna melawan anasir kafir yang menebar kedhaliman. Potong di Kuku Rasa di Daging, inilah wujud spirit ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya.  [Susiyanto]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *