Scroll to Top

RAJA ‘SHALIH’ DAN ‘KUASA’ AL QURAN

By Susiyanto / Published on Friday, 06 Mar 2015 01:40 AM / No Comments / 1307 views

Susiyanto, M.Ag.

Kraton Surakarta Tempo Dulu
Kraton Surakarta Tempo Dulu

Siapa pun yang belum mengenal secara dekat takkan mengira jika remaja belia itu adalah putra raja. Bahkan takkan menduga di kemudian hari akan bertahta. Penampilannya jauh dari kesan istimewa dan relatif sederhana untuk ukuran bangsawan. Dengan hanya mengenakan pakaian lurik, sandal kayu, dan destar (ikat kepala) hitam, tak ada yang membedakan dirinya dari kebanyakan orang.[1] Ia membaur diantara rakyat jelata tanpa meninggikan dirinya, manjing ajur ajer. Ada satu ciri khas yang ia punya. Bahunya selalu menyandang kain bermotif kaligrafi Arab yang berfungsi sebagai sajadah bila menjumpai waktu shalat.

Sejak awal ia menyukai petualangan. Banyak desa di pelosok kerajaan telah ia jelajahi. Sambil tak lupa masjid-masjid yang ia jumpai menjadi tempat persinggahannya. Ia memanfaatkan perjalanan itu guna memahami kehidupan rakyat kecil dan menemui para santri di setiap wilayah terpencil yang dikunjungi. Perjalanannya bisa dikatakan mewakili ungkapan Jawa “Jajah desa milang kori” yang bermakna mengembara ke berbagai pelosok. Begitu tahu bahwa dirinya adalah seorang bangsawan, tak pelak rakyat kecil menaruh hormat.

Sahabat dekatnya terdiri dari para santri dimana ia bisa saling berbagi dan mengkaji. Hari Jum’at ia manfaatkan untuk menjalankan Shalat Jum’at di berbagai masjid kuno seperti Masjid Kayuapak, masjid Wringin Pitu, Masjid petilasan Kyai Ageng Cinde Amoh, dan lain-lain. Banyak masjid dan mushola di wilayah Surakarta telah menjadi saksi pengembaraannya.

Perjalanannya terasa menarik dan berbau petualangan. Di beberapa wilayah pedesaan yang dekat aliran Bengawan Solo ia berangkat dan pulang dengan menumpang gedebok pisang. Dirangkainya batang pohon ini menjadi sebuah rakit dan dengannya ia berkedara diantara riak bengawan ke arah tujuan. Sebuah “kenekatan” yang cukup ekstrim untuk ukuran seorang anak raja.

Dia adalah Raden Mas Duksina, putra dari Sunan Pakubuwana VI, raja Kasunanan Surakarta.[2] Setelah berusia 17 (tujuh belas) tahun ia mendapatkan nama baru  K.G.P.H. Prabuwijaya. Di masa berikutnya ia menjadi raja Kasunanan Surakarta bergelar Sunan Pakubuwana IX.[3] Sejak muda ia dikenal pemberani dan tegas. Sifat-sifat ini terasah melalui pendidikan kesatriyaan (kasatriyan) yang ia peroleh di Keraton.

Sri Sunan Pakubuwana IX
Sri Sunan Pakubuwana IX

Ia memang putra raja. Tetapi perubahan kepemimpinan di kerajaan bahkan membuatnya tak yakin bahwa ia kelak akan bertahta. Ayahnya, Sunan Pakubuwana VI, raja Kasunanan Surakarta, diasingkan oleh Belanda ke Ambon dengan tuduhan membantu perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Pembuangan sang raja ini, konon terjadi atas pengkhianatan sejumlah abdi istana. Dua raja berikutnya berasal dari jalur keluarganya yang lain dan pengangkatannya selalu atas sepengetahuan Belanda.

PENCARI ILMU

Masa mudanya juga dihabiskan untuk belajar. Dalam bidang sastra ia pernah belajar kepada R.T. Yasadipura dan R. Ng. Sastra Harjendra. Terakhir ia pernah pula belajar kepada cucu R.T. Yasadipura, yakni R. Ng. Ranggawarsita sebelum hubungan keduanya berakhir memburuk akibat fitnah yang disebarkan oleh pihak Belanda.[4] Ia juga belajar ilmu kesehatan kepada dokter Cornelius, Van Der Roemer(?) dan M. Ng. Jayasasmita, dokter di Mangkunegaran. Ia bahkan pernah mempelajari bedah organ dalam.[5] Selain itu beliau juga menguasai kemampuan Pencak Silat. Wa’isyah, seorang berkebangsaan Arab yang tinggal di lingkungan Kraton, bertindak sebagai guru bela dirinya.

Kedekatan beliau dengan umat Islam tidak bisa dipungkiri. Sejak belia ia telah berguru kepada sejumlah pemuka Islam pada jamannya. Di antara guru-gurunya antara lain Ngabdulkahar di Ngruweng, Klaten dan Ahmad Ilham di Masjid Langenharjo.  Khusus terhadap Ngabdulkahar, Pakubuwana IX memberikan gambaran tentang bagaimana kualitas sang guru dan metode yang digunakan dalam mengajar, dalam karyanya “Serat Sesingir” sebagai berikut:

Pan ing uni ana ngulama pinunjul, Ngabdulkahar abibisik, sareh titis lamun muruk, tur mring kitab mumpuni, bisa nawang kareping wong.

Apa maneh wong minta kawruh linuhung, nora banjur den turuti, binobot sakuwatipun, umpamane desa cilik, tan kuwat kanggonan katong”.[6]

 [Dahulu ada seorang ulama berilmu tinggi, bernama Ngabdulkahar, sabar dan tepat dalam mengajar, lagi pula ia mumpuni dalam mengakses kitab-kitab, bisa memahami keinginan manusia.

Jika ada orang yang meminta pengetahuan tingkat tinggi, ia tidak akan langsung menuruti, ditimbangnya kemampuan orang tersebut, ibarat desa yang kecil tidak akan mampu ditinggali oleh seorang raja”].

Pada bagian lain ‘ulama dari Ngruweng ini digambarkan bisa menerangkan sanad keilmuannya hingga menyambung sampai kepada Rasulullah saw. Hal ini diterangkan dalam Kidung Sesingir tembang Asmarandana sebagai berikut:

 “Kasmarane ingsun eling, wuwulange guruningwang, Ngabdulkahar wisma Ngruweng, alim tlaten yen memulang, kuwat umure dawa, nora (u)sah ibadahipun, suprandene sugih garwa.

 Lan bisa sajarah ngelmi, wiwit kanjeng Rasulullah, tumerah mring ingsun kiye, dadi wruh wite kang mulang, tan jamak esmu tama, mijil saking rasul mring putra prapteng manira.

 Mangkana pantes linuri, wulange kawruh tetela, dadi tan kowar uruse, karo nalikane arsa, mulih mring rahmatullah, wus pitutur mring anak putu, iku wong waskiteng tindak”.[7]

 [Dalam kecintaan aku ingat ajaran guruku, Ngabdulkahar yang tinggal di Ngruweng, berilmu dan telaten dalam mengajar, memiliki usia panjang, dan tidak usah (ditanyakan) ibadahnya, meski memiliki beberapa istri.

 Juga bisa menjelaskan alur sejarah keilmuan sejak dari Rasulullah hingga sampai kepada aku ini, jadi bisa memahami asal pohon yang mengajar, tidak ragu lagi ini adalah keutamaan, ilmu yang berasal dari Rasulullah diwariskan kepada anaknya dan sampai kepada kita.

 Hal yang demikian patut dilestarikan, pengajaran ilmunya sangat jelas, jadi tidak akan menyesatkan urusannya,[8] dan pada saat beliau hendak pulang ke rahmatullah ia sempat memberikan wasiat kepada anak istrinya, hal ini menunjukkan bahwa dirinya telah bertindak awas (dengan memahami hal yang samar) (waskita = awas).”]

SASTRAWAN PRODUKTIF

Selain menjalankan aktivitas sehari-hari dalam urusan pemerintahan, beliau juga memanfaatkan waktunya untuk menulis. Ia merupakan salah satu raja yang cukup banyak menghasilkan karya sastra. Tidak berlebihan kiranya jika ia disebut sebagai sastrawan.[9] Diantara ciri khas karyanya selalu mengajak manusia untuk kembali kepada Sang Pencipta dengan memahami Al Quran dan Sunah Nabi-Nya serta mencari guru yang baik dan memahami agama.

Kidung Sesingir karya Sunan Pakubuwana IX
Kidung Sesingir karya Sunan Pakubuwana IX (Koleksi: Susiyanto)

Secara umum karyanya bisa digolongkan sebagai sastra wulang yakni karya sastra yang memuat kandungan pengajaran nilai-nilai luhur agama dan adat istiadat. Memang, masa pemerintahan Pakubuwana IX diketahui banyak melahirkan karya sastra bergenre sastra wulang. Masa hidupnya sejaman dengan sejumlah pengarang sastra Jawa seperti Ranggawarsita, R.T. Tandhanagara, K.P.H. Kusumadilaga, Mangkunagara IV, dan lain-lain.[10]

Ada pun karya-karya Sunan Pakubuwana IX antara lain adalah sebagai berikut: Kidung Sesingir, Côndrarini (ajaran tentang kesetiaan seorang istri), Darmaduhita (ajaran tentang bakti seorang istri), Darmarini, Gandrung Asmara, Gandrung Turida, Ibêr-ibêr (berisi pesan untuk anak sulungnya yang hendak menikah), Jayèngsastra, Menak Cina, Ngèlmu Kadhoktêran (tentang ilmu kesehatan jasmani dan rohani yaitu penggabungan dunia kedokteran Barat dan praktik pengolahan rasa khas Timur), Panji Jayèngsari, Patralalita (Kroton), Rêrêpèn Nawung Branta, Salisir Kagêm Gerongan, Wara Ratna, Wulang Punggawa (berisi ajaran untuk pegawai atau abdi negara), Wulang Putra, Wulang Putri, Wulang Rajaputra, dan Wulang Wanita.[11]

Karya-karya tersebut secara umum disusun dalam bentuk tembang ber-metrum macapat. Dengan ketepatan pemilihan kata (diksi) yang digunakan terciptalah tembang-tembang yang memiliki nilai sastra tinggi. Bahasa yang digunakan dalam penyusunan sya’irnya secara umum menggunakan Bahasa Jawa baru dipadu dengan sejumlah istilah Bahasa Jawa kuno dan Bahasa Arab. Dari sinilah keindahan itu tercipta, membuat karya-karyanya unggul sebagai sastra wulang yang mengupas pengajaran nilai-nilai Islam dan budaya Jawa.

 PETUAH KEAGAMAAN

Karya sastra yang ditulis tentu memiliki tujuan. Demikian juga karya sastra yang ditulis Sunan Pakubuwana IX. Sang raja Surakarta ini menyimpan harapan besar agar masyarakat nusa Jawa senantiasa berada dalam kejayaan dengan mengikuti teladan Rasulullah dan menganut Agama yang utama. Hal ini diungkapkan melalui “Kidung Sesingir” dalam metrum tembang Kinanthi sebagai berikut:

 “Lestarining usikipun, manungsa kang sinung eling, marang utamining tindak, hing bawana aywa nisthip, panggustinireng kasidan, widada dineng kadadeng.

 Dadiya jeyeng jayanung, wenanga mengku mumpuni, mring nusa jawa widada, darsaning pra utami, mupus tulus utama, sasedyane ingkang marsudi.

 Dumadi dadi tumuwuh, wuwuhe kawruh mratani, mring wawengkon sang sinewa, wewaton rumiya Nabi, kita kanjeng Rasulullah, Insya Allah mitulungi.

 Mring umat kang sedya anut, agami ingkang utami, memudar ruwet ing dria ywa sulaya ing pratitis, tinimbanga ing terang, awya age den lakoni.”[12]

[Lestarinya gagasan, manusia yang mampu mengingat, kepada keutamaan perilaku, di bumi jangan diremehkan, penghormatanmu kepada arah kembali, selamat sejak hari diciptakan.

 Jadilah jaya dalam kejayaan, berhak mendapat kemampuan, bagi keselamatan pulau Jawa, teladan bagi hal-hal utama, tumbuh keutamaan tanpa gangguan, semua cita-citanya yang dipelajari,

 Mewujud menjadi tumbuh, tumbuhnya pengetahuan menyebar luas, bagi wilayah yang dipertuan, berdasarkan ajaran nabi, kita kanjeng Rasulullah, mudah-mudahan Allah memberi pertolongan,

 kepada umat yang bersedia menganut agama yang utama, mengatasi keruwetan dalam panca indra jangan sampai salah dalam meneliti, pertimbangkan dengan terang, ayo segera dilaksanakan.]

 Kepada kaum lelaki, sang raja berpesan untuk giat mencari nafkah bagi keluarganya. Tindakan ini dikatakannya merupakan salah satu upaya untuk mengikuti sunah Nabi. Beliau menyatakan sebagai berikut:

 “Lamun sira aneng wisma duh wong bagus, nyambiya pakaryan, nira kang maedahi, dimen jenak atinira aneng wisma.

 Anenandur ingkang ana asilipun, tabik Rasulullah, wohing glalakirna dadi, kang minangka napkahing garwa lan putra”.[13]

 [ Jika engkau berada di rumah wahai tampan, lakukanlah pekerjaanmu yang bermanfaat, agar hatimu betah berada di rumah.

 Tanamlah sesuatu yang menghasilkan, mengikuti ajaran Rasulullah, buah dari tanaman dipekarangan akan bisa digunakan sebagai nafkah untuk istri dan anak.]

Menariknya, Pakubuwana IX juga melontarkan gagasan kepemimpinan negara dengan menggunakan panduan Al Quran dan Shunnah. Ide ini ia tuangkan melalui nasehat untuk putra raja yang hendak menggantikan tahta ayahnya. Al Quran, dalam pandangannya, memiliki kesempurnaan dalam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Hanya dengan berpedoman pada kitab suci dan mencontoh praktik pengamalan melalui Nabi Muhammad maka persoalan yang dihadapi manusia, termasuk dalam konteks kenegaraan, bisa diatasi. Hal ini diungkapkan sebagai berikut:

 “Anglir madu ature pun kaki, pandhita di Nursidhi peparab, meng tembung-tembung jinentreh, tata titis dumunung, andunungaken wajibing gusti, risang narendra putra, amengku keprabon bapa, bapa babuning manungsa, kang rinilan badaling nabi mangkin, lil umiyi parabnya,

 Lil umiyi wardinipun, nenggih makhluk ingkang miturut sakarsa mring hyang kang sipat kayune,  Nabiullah jejuluk, kang baboning manungsa iki, rasul kang rinasa, ing janma sawegung, Muhammad kakiki rannya, kang madangi tyase, kang manungsa agami, mashur mau Muhammad.

 Agama iku perlune yekti, pikukuhe tetimbanganing tyas, nistha madya utamane, mung iku rasanipun dalil kadis kang den semoni, supaya animbanga, sagunging pra ratu, wadya kang sawalang karsa, pinrih sirep saking kuwasaning aji wewaton kitab Quran.

 Quran iku tembungira rapil, makna murad maksude rinasa, ijmak miwah qiyase, ikhjidyate winengku, rawatana sajroning ati, tinrepana nujwa, kalamangsanipun, anirnaken truhing praja, jerta ratu tetumbaling wong among kingkin, berat asung durmuka”.[14]

 [ Seperti madu perkataan Pendeta bernama Nursidi, istilah-istilah diterangkan maksudnya, tertata, tepat sasaran dan pada tempatnya, menempatkan kewajiban seorang gusti putra raja yang bertahta menjadi ayah dan pelayan manusia yang diridhai sebagai mewakili Nabi yang ummiy.

 Lil ummiy maksudnya adalah makhluk yang taat pada kehendak Allah yang Maha Hidup, Nabiullah yang menjadi pemuka manusia, rasul yang dirasa umat manusia bernama Muhammad, yang menerangi hati manusia beragama, masyhur bernama Muhammad

 Agama itu nyata diperlukan, sebagai patokan dalam pertimbangan hati dalam menentukan keburukan, pertengahan, dan kebaikan, hanya itu yang yang dikupas oleh dalil hadits agar segenap para raja bisa menimbang, bawahan yang memiliki hati yang kecil agar bisa dipimpin oleh raja dengan berdasarkan kitab Al Quran

 Al Quran itu pernyataannya kompleks, memiliki makna yang bisa dirasakan, ijma’, qiyas, dan ijtihadnya bisa dikuasai, peliharalah dalam hati, terapkanlah untuk menghilangkan keruwetan di kerajaan, sebab raja itu adalah tumbal bagi pamomong rakyat yang menderita, memberantas apa pun yang menyebabkan keburukan ].

Tak lupa seruan juga ditujukan untuk para ulama agar selalu siap membimbing umat. Pada masa itu banyak kalangan agamawan justru tidak menjalankan perannya secara konsekuen. Sebagian hanya memanfaatkan agama untuk mendapatkan gelar dan jabatan. Akibatnya, kerusakan menyebar dalam masyarakat, termasuk di kalangan ulama itu sendiri. Hal yang demikian tidak luput dari perhatian sang raja. Ia mengungkapkan sebagai berikut:

 “Kayata para ngulama, prawikan khatib lan modin, marbot juru sutapa, tangeh lamun yen wruh ing wajib, lurahe mituturi tan ana anggugu, kesed mengaji Qur’an, kitab nora den preduli, lali lamun bengine ngulama.

 Mangan, madon ngabotohan, nora wurung bakal maling, lali nora salat-salat, neng dosa neng desa adoh kyai, pangulu mula lali, sabab pijer ngaben sawung, yeku pra pikas sumyang, mula cinopot samangkin, pan kinarka adol ampun nora padang.”[15]

 [ Seperti para ulama, para cerdik pandai, khatib, dan muadzin, marbot, dan pelaku asketik, sangat tidak mungkin jika mereka mengetahui kewajiban, sampai-sampai lurah berbicara tidak didengarkan oleh rakyat, malas mengaji Al Qur’an, kitab tidak lagi diperdulikan, lupa jika di malam hari ia adalah ulama.

 Makan, main perempuan, judi, bisa-bisa lantas mencuri, lupa tidak menjalankan shalat, di pedesaan jauh dari kyai dan penghulu maka mereka lalai, sebab selalu menyabung ayam, itu yang menyebabkan mereka ribut, bisa ditebak menjual keselamatan namun tidak memiliki cahaya.]

Para pemimpin keagamaan yang tidak lagi menjalankan kewajibannya membina dan menjadi teladan bagi umat, dengan tegas dipecat oleh sang raja. Alasannya, menurut beliau, mereka ini adalah jenis manusia yang “adol ampun nora padang” artinya “menjual keselamatan namun dirinya sendiri tidak memiliki cahaya”. Pada bagian agak akhir dari Kidung Sesingir, Sunan Pakubuwana IX memiliki harapan yang besar untuk para ulama yang masih ada, sebagai berikut:

 “Duh duh kang para ngulama, pada gegulanga ngelmi, ngelmune jeng rasululloh, sayektine mupangati, kang ginelar linuri, patang prakara trapipun, den terang sanira, tumrap ing sawiji-wiji, dipun wejang jer tha iku tembung Arab.

 Dudu basane wong Jawa, aja ngawak kudu titi, tetakona kang tetela, rapal maknane muranti, dadi tetep ngawruhi, patitising kawruhipun, kudu guru ngulama, ingkang wus sinebut mukmin, mukmin kawastan tan was tutur utama.”[16]

 [ Wahai para ulama, mari ajarkanlah ilmu dari Rasulullah sungguh itu bermanfaat, yang telah diajarkannya peliharalah, ada empat perkara pelaksanaanya, terangkanlah itu satu per satu, ajarkanlah meskipun itu menggunakan kata Bahasa Arab

 Bukan bahasa milik orang Jawa, jangan semaunya tetapi harus diperiksa, bertanyalah yang jelas, bunyi dan maknanya dimengerti, jadi tetap bisa diketahui, tepat pengetahuannya, harus berguru pada ulama yang telah disebut mukmin yaitu tidak khawatir apabila berbicara kebenaran.]

Demikian itu sebagian nasehat Sunan Pakubuwana IX, raja Kasunanan Surakarta. Banyak kalangan mengira bahwa wujud keislaman di lingkungan Kraton telah mengalami degradasi dan dekadensi. Namun pemikiran Pakubuwana IX justru memperlihatkan fakta sebaliknya. Dengan semua kelebihan dan sekaligus kelemahannya, ia telah menyuarakan bahwa dirinya merupakan bagian dari pejuang dakwah yang ikut serta menyerukan kebenaran Islam di muka bumi. Wallahu a’lam. [Susiyanto]

FOOTNOTE :

[1] Serat Jatno Hisworo: Hanjariosaken lelampahan sarta kawontenan dalem sampeyan dalem ingkang Sinoewoen Kandjeng Soesoehoenan P.B. IX Wiwit Bade Kabobotaken Doemoegi Soeroed Dalem, Surakarta: Poro Wajah Dalem, 1952, p. 17

[2] Awalnya R.M. Duksina tidak mengetahui bahwa ia merupakan putra Sunan Pakubuwana VI yang diasingkan di Ambon. Kenyataan ini rupanya ditutup rapat oleh pihak keluarga Kraton untuk melindungi sang pangeran. Ia mengira bahwa dirinya adalah anak raja yang saat itu berkuasa yakni Pakubuwana VII. Namun suatu hari tanpa sengaja ia membaca sebuah surat yang ditujukan untuk Pakubuwana VII yang membicarakan tentang R.M. Duksina. Begitu membaca surat itu ia baru menyadari jati dirinya dan hal itu sempat membuatnya pingsan. Lihat: Pahargyan Surakarta: 200 Tahun, dalam Majalah Kejawen Selasa Pon, 28 Sapar Je 1870 – 18 April 1939/ Taun XIV, Betawi Centrum: Balai Pustaka, 1939, p. 500

[3] Ia naik tahta dengan gelar Sampeyan Dalêm Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama ingkang kaping sanga  dalam upacara penobatan pada hari Senin Lêgi tanggal 27 Jumadilakir tahun Je 1790, wuku Sungsang windu Sêngara, atau 30 Desember 1861. Ia meninggal pada 17 Maret 1893. Lihat: M.Ng. Prajaduta, Pustaka Sri Radyalaksana, Surakarta: Budi Utama, 1939, p. 130-131; Imam Supardi, Ki Padmosusastro: Wong Mardika kang Marsudi Kasusastran Djawa ing Surakarta, Surabaya: Panjebar Semangat, 1961, p. 26; Cohen Stewart, Serat Pananggalan ing Tahun Wêlandi 1864, Semarang: Van Dorp, 1862, p. 101

[4] Ketegangan antara Ranggawarsita dengan Pakubuwana IX dipicu adanya dugaan pengkhianatan yang dilakukan oleh R. Ng. Pajangswara (ayah Ranggawarsita yang saat itu menjabat sebagai juru tulis) sehingga menyebabkan Pakubuwana VI (ayah Pakubuwana IX) dibuang ke Ambon oleh Belanda. Pakubuwana VI sendiri mengalami pengasingan karena dianggap telah memberikan bantuan dan persepakatan dengan Pangeran Diponegoro semasa Perang Jawa (1825-1830) melawan Belanda. Peristiwa inilah yang menyebabkan kerenggangan di antara kedua belah pihak. Lihat: Anjar Any, Ronggowarsito: Apa yang Terjadi ?, Semarang: Aneka Ilmu, 1989, p. 61;

Akibat konflik tersebut, Ranggawarsita harus menelan kekecewaan. Ia yang saat itu berpangkat Kliwon Kadipaten, awalnya mengira dirinya akan dinaikkan pangkat sebagai bupati sebagaimana kakeknya, R.T. Sastranegara (Yasadipura II). Kegetiran ini kemudian ia tuangkan dalam karyanya yang cukup dikenal yaitu Serat Kalatidha. Lihat: Bratakesawa, Andaran Kalatida Ranggawarsitan, Surabaya: Pustaka Nasional, 1950, p. 16

[5] Serat Jatno Hisworo …, p. 20

[6] R. L. Mangunlesana (ed.),  Kidung Sesingir: Serat Piwulang Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana Kaping IX ing Nagari Surakarta – Hadiningrat, Surakarta: Toko Buku “Pelajar”, p. 17

[7] R. L. Mangunlesana (ed.), Kidung Sesingir …, p. 17-18

[8] Dalam tembang tersebut digunakan kalimat “dadi tan kowar uruse”. Kata “kowar” dalam Bahasa Jawa maknanya “tidak diketahui siapa yang memiliki” atau digunakan untuk menyebut seorang anak yang “tidak jelas identitas bapaknya”. Lihat: Sabari, Kamus Basa Jawi, Surakarta: Seti-Aji, 2005, p. 125. Jadi maksud kalimat “tan kowar uruse” tersebut menekankan bahwa apabila ilmu yang diajarkan oleh seorang guru itu bisa diketahui dengan jelas jalur periwayatan keilmuannya maka tidak akan menyebabkan ketidakjelasan urusan pada generasi berikutnya.

[9] G.R. Ay. Bratadiningrat, Asalsilahipun Para Nata, Surakarta: tp, tt, p. 34

[10] Lihat: Amir Rochkyatmo, Serat Wulang: Sebuah Genre di dalam Sastra Jawa dan Karya Sastra Lain Sejaman, dalam Jurnal Jumantara Vol. 1 No. 1/2010, Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2010,  p. 11

[11] Karya-karya Sunan Pakubuwana IX tersebut sebagian telah dikumpulkan oleh Padmasusastra dalam buku yang berjudul “Wira Isjwara”. Lihat: Padmasusastra (ed.), Wira Isjwara: Anggitan Dalêm Sampeyan Dalêm Suwarga Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan Pakubuwana IX, Surakarta: Albert Rusche & Co, 1898.

[12] R. L. Mangunlesana (ed.), Kidung Sesingir …, p. 4

[13] R. L. Mangunlesana (ed.), Kidung Sesingir …, p. 12

[14] R. L. Mangunlesana (ed.), Kidung Sesingir …, p. 30

[15] R. L. Mangunlesana (ed.), Kidung Sesingir …, p. 43

[16] R. L. Mangunlesana (ed.), Kidung Sesingir …, p. 43

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *