Scroll to Top

RISALAH ALIRAN MENYIMPANG DI TANAH JAWA

By Susiyanto / Published on Thursday, 21 Jan 2016 02:45 AM / No Comments / 2980 views

(Studi Naskah Klasik Jawa Serat Bayanullah)

 

Susiyanto, M.Ag.

(Sekretaris MIUMI Daerah Solo Raya)

PENDAHULUAN

Illustrasi Serat Bayanullah
Illustrasi Serat Bayanullah

Semestinya masyarakat Jawa memiliki pemahaman yang cukup terhadap aliran pemikiran dan keagamaan menyimpang yang muncul di sekitar mereka. Terkaget-kaget dengan wacana seputar konsep bid’ah seharusnya tidak perlu terjadi. Sejumlah karya sastra lama telah memberikan peringatan yang cukup jelas tentang fenomena aliran sesat. Memang perlu disayangkan, sebagaimana nasib naskah-naskah klasik Jawa bernafas Islam lainnya, tidak banyak bisa diakses oleh kebanyakan masyarakat Jawa. Maka tidak heran, jika mereka terputus dari tradisi “wejangan” (nasihat) yang berasal dari para pendahulunya.

Serat Bayanullah merupakan salah satu karya sastra klasik Jawa yang secara khusus membicarakan aliran pemikiran dan keagamaan menyimpang. Kitab karya Raden Panji Natarata alias Raden Sasrawijaya[1] yang disusun dalam metrum tembang Macapat ini, bisa dikatakan merupakan catatan komprehensif yang mengetengahkan kritik terhadap berbagai aliran pemikiran dan keagamaan yang berkembang pada masa kehidupannya.

Naskah Serat Bayanullah pernah dimuat dalam salah satu terbitan Almanak H. Buning dengan menggunakan aksara Jawa pada tahun 1920.[2] Pada 1959, R. Tanaya[3] pernah mengumpulkan sejumlah karya Raden panji Natarata, termasuk Serat Bayanullah, dalam buku yang ia beri judul “Kalempaking Serat-serat Natarata” (Kumpulan Naskah-naskah Natarata).[4] Pada 1975, Raden Bratakesawa, seorang budayawan muslim di Yogyakarta, merasa perlu menerbitkan kembali karya ini dengan menggunakan aksara latin agar diketahui masyarakat luas. Raden Bratakesawa melakukan kerja yang bersifat filologis ini dengan membandingkan antara naskah Almanak H. Buning dengan naskah lain yang masih berupa tulisan tangan. Sejumlah kesalahan penulisan, kekeliruan kalimat, atau ketidaksesuaian yang mungkin timbul dalam metrum tembang Jawa ia betulkan dengan memberikan catatan kaki.

Alur secara umum dari naskah klasik ini sebenarnya menjelaskan tentang ajaran sangkan paraning dumadi yaitu suatu ajaran khas Jawa yang mengetengahkan pembahasan tentang konsep asal mula (= sangkan) dan tujuan  (= paran) penciptaan manusia. Dalam konsep sangkan ia menjelaskan bahwa eksistensi manusia di dunia diawali dengan proses penciptaan Adam. Sedangkan paran (tujuan) manusia pada akhirnya mengarah pada upaya untuk mencapai kaswargan (masuk surga).

Usaha manusia untuk memasuki kaswargan ini bukan perkara yang sederhana. Berbagai cobaan dan hambatan akan senantiasa merintangi perjalanan manusia. Sejumlah aliran pemikiran dan keagamaan menyimpang akan menggelincirkan manusia dari jalan yang benar. Berangkat dari dasar pemikiran semacam inilah, Raden Panji Natarata lantas menyusun daftar sejumlah aliran pemikiran dan keagamaan menyimpang di tanah Jawa yang ia temui sepanjang proses pencarian ilmunya. Ia berharap agar masyarakat Jawa dapat memahami hal ini sehingga tidak mudah terjerembab ke dalam kesesatan.

ALIRAN MENYIMPANG DAN KRITIK

Serat Bayanullah yang dimuat dalam Almanak Buning 1920. (Sumber: sastra.org)
Serat Bayanullah yang dimuat dalam Almanak H. Buning 1920. (Sumber: sastra.org)

Dalam pengembaraan di Pulau Jawa dan Bali, Raden Panji Natarata, banyak menjumpai berbagai ajaran yang pada masa berikutnya, setelah ia mempelajari dan memahami Islam, ia kelompokkan sebagai ajaran menyimpang. Bukan hanya memberikan deskripsi ajarannya, ia juga memberikan kritik seperlunya terhadap penyimpangan yang ada dalam aliran atau sekte yang ia jumpai.

Sebut saja misalnya, Raden Panji Natarata memberikan kritik terhadap pemahaman tentang konsep manunggaling kawula lan gusti, sebuah pemikiran yang banyak dianut oleh kalangan penghayat kebatinan di Tanah Jawa. Deskripsi dan kritik tersebut ia sampaikan dalam metrum tembang Dhandhanggula pupuh I bait 11 sebagai berikut:

Kang sawênèh sarjana mumpuni | ing sasmita ngèlmu kasampurnan | Allah tunggal ing jisime | angên-angên rinêngkuh | cinipta Hyang Kang Murbèng Bumi | yèn kinêcapkên lesan | uluk salallahu | iku tunggal cipta sasar | awit maksih kasipatan owah gingsir | tur maksih kênèng edan ||”[5]

 (Ada lagi sejumlah cerdik pandai yang mumpuni dalam perlambang ilmu kesempurnaan mengatakan bahwa Allah telah menyatu dengan jasadnya. Dalam angan-angannya merasa sebagai Yang Maha Kuasa yang menguasai bumi. Jika diucapkan secara lesan maka dijawab Salallahu. Itu adalah pemikiran yang sesat sebab manusia itu memiliki sifat mengalami perubahan dan bahkan bisa terkena penyakit gila)

Pengakuan sebagian kalangan bahwa Allah menyatu pada jasad manusia dibantah oleh Raden Panji Natarata.  Menurutnya Allah tidak mungkin menyatu ke dalam jasad manusia. Allah adalah zat yang Maha sempurna yang menguasai keadaan. Sementara manusia bersifat tidak tetap dan mengalami perubahan. Raden Panji menambahkan, manusia juga bisa mengalami sakit gila. Jadi, tidak mungkin Allah yang Maha Sempurna menyatu dengan manusia yang mengalami kondisi perubahan dan bahkan bisa terkena penyakit jiwa.

Wujud Allah tidak akan dapat ditampung oleh raga manusia yang rapuh. Bahkan sifat kesempurnaannya tidak bisa digambarkan oleh alam pikiran manusia.

“dalil Kuran wus amêmancahi | pan mangkana ula murtasiman | pikialihi têgêse | tan kacakra Hyang Agung | munggèng angên-angêning janmi | sayêkti dadi batal | pangawulanipun | walanupus Gusti Allah | tanpa napas marma yèn dèn anggêp pasthi | napas ingaran Allah ||

 iku aja têmah kupur kapir | barat dèn anggêp Hyang Kang Murwèngrat | têmah kapiran uripe | kalamun maksih kukuh | angukuhi kang wus tinulis | prayoga sumingkira | tôndha seje kawruh | kawruhing buda katriwal | awêwaton ngèlmu saka Dewaruci | dudu wit saking Ngarab ||

mamèt buda ingarabkên dadi | kawruh nasar nunjang kitap Kuran | ginalih suwung rasane | kitap kacakra suwung | nora wêruh ragane sêpi | cupêt cingkranging nalar | pring suwung kumênthung | kênthung-kênthung mung wêwadhah | tanpa isi dèn isèni napas angin | pinuji tur sinêmbah ||

 mantêp têtêp tur dèn aku Gusti | Allah ingkang murba masesèng rat | poma ywa mangkono anggèr | wajibe Gusti iku | samak basar kadirun ngèlmi | rongpuluh sipatira | jinèrèng ginêlung | yèn têtêp sarjananingrat |”[6]

[Dalil Al Quran telah menyebutkan demikian ula murtasiman fikiyalihi yang maknanya tidak bisa digambarkan hakikat Yang Maha Besar dalam angan-angan manusia, (jika tetap melakukan perbuatan semacam itu) maka jelas batal penghambaannya, wala nufus Gusti Allah, tanpa nafas makanya dianggap pasti, nafas itu dianggap Allah

Jangan engkau yakini hal demikian sebab dirimu bisa menjadi kafir, angin besar dianggap sebagai Penguasa Alam Raya, jelas hidupmu akan merugi. Jika engkau masih mengimani kitab yang tertulis (Al Quran), maka tinggalkanlah keyakinan semacam itu. Sebab jelas itu ajaran yang berbeda yaitu ajaran yang berasal dari Budha yang menyesatkan. Hanya didasarkan pada ilmu dari Dewa Ruci, bukan ajaran yang bersumber dari Arab

Jadi hal itu hanya ajaran Budha yang di-arab-kan, ilmunya menyesatkan dan melanggar ajaran kitab Al Quran. Jika dipikirkan kembali akan kosong rasanya, tidak memahami bahwa raganya sepi, penalarannya serba kurang ibarat pohon bambu yang kosong bagian dalamnya namun bisa mengeluarkan suara. Suara-suara itu hanya berasal dari wadah saja, tanpa isi namun hanya diisi oleh nafas dan angin, dipuji-puji dan disembah

Mantap kukuh diklaim sebagai Allah Yang Maha Kuasa, Janganlah engkau bersikap demikian wahai anakku, Sifat wajib bagi Allah itu sama’, bashar, qodirun, ‘aliman yang kesemuanya berjumlah dua puluh. Telah banyak dijelaskan, jika engkau orang yang berilmu maka tidak akan samar lagi sebab batin akan membenarkan, tepat dunia dan akhirat].

Selain itu Raden Panji Natarata juga mengkritik pemahaman manunggaling kawula lan gusti lainnya yang menjabarkan bahwa Allah, dan Nabi Muhammad telah ada dalam diri setiap orang. Baginya, paham semacam ini justru merusak sifat ke-mahakuasa-an Allah, yang seharusnya tidak mungkin bercampur dengan manusia yang serba terbatas. Beliau menulis dalam Pupuh I bait 18 hingga 20 sebagai berikut:

jumênênge kawula lan gusti | Allah Mukhamad lan Rasulullah | wus dumunung sira kabèh | ing bumi langit pitu | saka ananira pribadi | Mukhamad Rasulullah | sajêroning idhup | wijange lah rasakêna | lirnya rasul rasanira kang sajati | tunggal rasaning suksma ||

 iku salah tômpa ing panganggit | lamun rasa-rasaning Pangeran | nora mangkono patrape | Pangeran rasanipun | nora awor lan sira kaki | pamriksa pangandika | myang pamyarsanipun | nora tunggal lawan sira | kuwasane karsanira Hyang Kang Luwih | sayêkti tan momoran ||

lah pisahên aywa tinggal budi | iku nyata panganggêpmu ring Hyang | nanging Allahira dhewe | aywa salah pangawruh | dudu Pangraning bumi langit | lan malih wêkas ingwang | manuswa kalamun | dhaku kukuh kuwating tyas | angên-angên dinalih wujuding Gusti | patrape takokêna ||”[7]

[Kedudukan hamba dan Tuhan yaitu Allah dan Muhammad Rasulullah sudah ada dalam diri kalian semua. Demikian juga bumi dan langit lapis tujuh wujudnya karena adanya dirimu. Muhammad Rasulullah ada di dalam hidupmu, demikian ajarannya, maka coba rasakanlah. Yang dimaksud Rasul adalah rasa sejati yang menyatu dalam rasa sang sukma.

Itu salah paham dalam pemikiran. Jika rasa dari rasa Sang Tuhan tidak seperti itu sifat-sifatnya. Keberadaan Tuhan tidak menyatu dengan dirimu anakku. Penglihatan, pengawasan, dan Ucapan-Nya tidak menyatu dengan dirimu. Kekuasaan dan kehendak-Nya sungguh tidak bisa dicampuri..

.Maka pisahkanlah, jangan sampai meninggalkan Budi. Jika demikian, maka itu jelas-jelas merupakan anggapan dirimu tentang Allah. Jadi itu adalah Allah menurut anggapan dirimu sendiri. Jangan sampai salah memahaminya itu bukan Tuhan bumi dan langit. Dan lagi wasiatku jika manusia mengaku telah kuat keyakinan hatinya dan menganggap angan-angan sebagai wujud Tuhan maka, maka pertanyakalah sifat-sifat-Nya].

           

Selain itu di Jawa juga berkembang aliran pemikiran yang menganggap bahwa raja merupakan perwujudan dari Tuhan. Dengan demikian maka Allah, menurut paham ini, tidak ada sebab telah mewujud dalam diri sang penguasa. Dalam tembang Kinanthi pupuh II bait 26 disebutkan demikian:

satêngah ana wong muwus | ratu dèn anggêp Hyang Widi | Gusti Allah nora ana | wujudnya sri narapati | yaiku wong salah ucap | gasruh kawoworan pêri ||[8]

[Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa seorang raja dianggap sebagai Tuhan. Dengan demikian maka Allah itu tidak ada sebab telah mewujud pada diri sang raja. Hal semacam ini adalah ucapan orang yang salah menyesatkan karena tercampuri pemahaman peri (makhluk halus)]

           

Selain ajaran-ajaran yang diungkapkan di atas, masih banyak aliran pemikiran dan keagamaan menyimpang yang dikupas oleh Raden Panji Natarata. Pemahaman dan praktik menyimpang semacam ini umumnya berkembang di kalangan muslim sendiri atau penghayat kebatinan. Selain itu dibeberapa bagian karyanya ia juga mendeskripsikan penyimpangan dan kritik terhadap ajaran Budha, Hindu, dan Kristen.

 

PERKEMBANGAN KRISTEN DI JAWA

Serat Bayanullah yang diterbitkan dan dikomentari oleh Raden Bratakesawa. (Koleksi Susiyanto)
Serat Bayanullah yang diterbitkan dan dikomentari oleh Raden Bratakesawa. (Koleksi Susiyanto)

Secara khusus Raden Panji Natarata mengupas tentang berkembangnya ajaran Kristen diantara masyarakat Jawa. Pembahasan tentang Kristen ini menempati porsi yang agak banyak dalam isi Serat Bayanullah. Oleh karena itu penting kiranya mendapatkan pembahasan secara terpisah karena nampaknya menjadi tema yang cukup menyita perhatian sang pengarang. Dalam pengembaraan ke Batavia ia sempat menemui sejumlah orang Jawa yang telah berganti agama akibat bujukan yang hakikatnya menyesatkan. Kisah ini nampaknya cukup penting bagi beliau, sehingga diceritakan dalam dua tembang yaitu tembang Pocung dalam pupuh VIII dan tembang Pangkur pada pupuh IX. Selain itu ada beberapa pupuh lainnya yang juga menceritakan tentang ajaran Kristen.

 Pada tembang pupuh VIII tembang Pocung bait 44 hingga 53 diceritakan Raden Panji Natarata sebagai berikut:

 “nulya ingsun anèng Batawi kapranggul | gurune wong kalap | gama Kristên kitab Injil | sun mruhita trap pratikêling sampurna ||

 tan sinung wruh mung kinèn madhêp kang sujud | nora sah ing kajat | jatining kawula gusti | manuswa gung kabèh putrane Hyang Suksma ||

 kang sumêngkut angênggon-goni kang jumbuh | ngaku Nabi Ngisa | rohullah kang mêngku urip | iya iku angên-angên lawan napas ||

 kang mangèstu ing benjang masthi katêmu | Kangjêng Nabi Ngisa | sayêktine maksih nganti | kawulane anèng sawarga kasapta ||

 iya iku wong kabêntur têmbung bagus | Injil crita mulya | kang dèn prêtal têmbung Jawi | luwês dhèmês Tuwan Wintêr Surakarta ||

 ingkang bagus luwih rarêngganing bagus | mulya di utama | kang mêmêlas ngasih-asih | singa mulat wong Jawa akèh kagiwang ||

 nora wêruh pêtêng atine kalimput | mêpêting tyas mamak | muk-mukan tan darbpikir | kira-kira lan panyanane katriwal ||

 wong Jawa gung ing Batawi samya nungsung | salin sêsêmbahan | manut tataning Sêrani | malbèng grija manêmbah arêp-arêpan ||

 kang sinêngguh Nabi Ngisa maksih idhup | iku dadi tôndha | lilung klalanganing pikir | wirang isin wong Jawa salin agama ||

gamanipun Ngarab pribadi tan wêruh | gayuh gama liya | suprandene dèn antêpi | wus prasasat wong Ngara ing Majakarta ||[9]

[Lantas di Betawi aku menjumpai guru orang-orang yang tersesat Agama Kristen yang memiliki kitab Injil, aku berguru padanya tentang tata cara mencapai kesempurnaan

Ia tidak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Aku hanya diminta mantab dalam menyembah, tidak sah dalam hajat, sejatinya sebagai hamba Tuhan, semua manusia itu adalah putra dari Hyang Sukma (Roh Kudus)

Yang secara sungguh-sungguh bertempat pada yang berjodoh, mengakui bahwa Nabi Isa itu Ruhullah yang menguasai hidup yaitu berupa nalar dan nafas

Orang-orang yang meyakini hal ini, pada masa yang akan datang pasti akan bertemu Kanjeng Nabi Isa yang sesungguhnya masih menunggu hambanya di surga ketujuh.

Itulah orang-orang yang terjebak oleh kalimat-kalimat indah dari kitab Injil yang diterjemahkan dalam ungkapan Jawa oleh Tuan Winter di Surakarta

Yang nampak bagus dihiasi dengan indah, kemuliaan diutamakan, yang mengiba penuh cinta kasih, sehingga orang-orang Jawa banyak yang terpengaruh

Mereka itu tidak mengetahui bahwa hatinya sedang diselimuti oleh kegelapan, hatinya dibutakan, berbuat ceroboh tanpa dipikirkan, pertimbangan dan prasangkanya tersesatkan

Orang-orang Jawa di Batavia mulai berganti agama menurut tata cara Nasrani, masuk ke gereja beribadah berhadapan

Mereka meyakini bahwa Nabi Isa masih hidup. Itu semua menjadi tanda bahwa mereka telah linglung akibat pemikirannya tersesatkan sehingga tanpa rasa malu orang Jawa berganti Agama

Sedangkan agamanya sendiri saja yaitu Agama Arab tidak mereka pahami, tetapi justru berganti agama yang lain. Namun itulah yang mereka yakini sehingga mirip sekali dengan orang-orang Ngoro di Mojokerto]

Pada bait di atas, nampak bahwa Raden Panji Natarata menjadi saksi bagi perkembangan Kekristenan yang dimulai dari proses kolonialisasi bangsa Barat di tanah air. Dalam pengembaraannya ia menjumpai Kristen telah tersebar dari Batavia hingga Ngoro di Jawa Timur. Masyarakat Jawa pada jaman itu secara umum menganggap bahwa Kristen merupakan agama orang Belanda. Dengan demikian beralih agama menjadi Kristen artinya kemlanda (menjadi seperti penjajah Belanda). Akibat anggapan semacam ini, Kristen menjadi sulit tersebar diantara orang Jawa, sebab begitu ada orang Jawa beralih Kristen biasanya mereka akan diisolasi. Solusinya, sejumlah penginjil lantas tergerak untuk membuat desa-desa baru guna menampung pemeluk Kristen dari kalangan masyarakat Jawa.

Desa Ngoro adalah salah satu desa yang berfungsi semacam itu. Orang-orang Kristen yang tidak diterima oleh masyarakat Jawa kemudian di bawah arahan Coenrad Laurens Coolen, seorang penginjil peranaakan Rusia-Belanda dan Jawa, pada 3 Juli 1827mendapat ijin dari Pemerintah Kolonial untuk membuka hutan di wilayah Ngoro, sekitar 60 km dari Surabaya. Di sinilah komunitas Kristen Jawa berkembang di desa baru yang mereka bentuk. Coolen menyebut ajarannya sebagai “Kristen Jawa”, bukan “Kristen Landa”.[10]

Berikutnya, dalam tembang Pangkur pupuh IX bait 1 hingga 5 dilanjutkan dengan pembahasan tentang perkembangan Kristen di Batavia, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Sidoharjo, Malang, dan Kediri. Raden Panji Natarata menjadi saksi bagaimana perilaku para penganut Kristen yang sering mencela dan mengejek umat Islam. Hal tersebut diungkapkan sebagai berikut:

wong Kristên agama Ngisa | tanah Jawa tekate kèh ngantêpi | kèlu crita èdi nyamut | pangrasane têtela | ing Batawi Samarang Surabaya gung | Pasuruan Sidaarja | ing Malang tuwin Kadhiri ||

 desa Gombong tanah Ngroma | tuwa anom lanang wadon mèstuti | mring Injil pituturipun | ingkang luwih sampeka | anyukupi urip praptèng patinipun | yèn gunêman amacithat | nênacad amêmoyoki ||

 marang agama Mukhamad | kang mangkono iku datan prayogi | awit ing sayêktinipun | sakabèhing agama | nora ana ingkang ala ingkang bagus | de anggêpe bôngsa Islam | tan ana ingkang ngungkuli ||

 agama nayakaningrat | Kangjêng Nabi Mukhamad kang sinêlir | nganggit Kuran kang dhumawuh | dadi umuling kitab | pira-pira kawruh ingkang bagus-bagus | ngêncêngakên marang tekat | ala bêcik dèn kukuhi ||”[11]

[Orang Kristen agama Isa[12] telah mulai banyak dianut di Jawa. Mereka telah terbujuk oleh cerita-cerita indah yang melenakan. Mereka tersebar di Betawi, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Sidaharjo, Malang, dan Kediri

Juga di Desa Gombong Tanah Ngroma. Tua muda dan lelaki perempuan melaksanakan ajaran kitab Injil. Hal yang lebih direkayasa lagi mereka percaya bahwa ajaran itu mencukupi bagi kehidupan hingga kematian. Jika berbicara mereka kurang ajar, menjelek-jelekkan dan mengejek …

 … terhadap agama Nabi Muhammad. Hal semacam ini tentu tidak baik, sebab sebenarnya semua agama tidak ada yang baik atau yang buruk. Mereka menganggap bahwa bangsa Islam tidak ada yang mampu mengungguli.

Islam adalah agama sang pemandu bagi dunia, Nabi Muhammad yang terkasih. Al Quran telah menjadi kitab induk bagi berbagai pengetahuan yang bagus-bagus yang mampu meneguhkan tekad. Juga menjadi panduan untuk membedakan antara yang baik dan buruk]

Raden Panji Natarata berpesan dalam pupuh VII tembang Mijil bait 22 hingga 26 agar masyarakat Jawa tidak mudah terbujuk oleh ajaran selain Islam. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad-lah yang paling sesuai bagi masyarakat Jawa, Menurut beliau, Islam mencakup konsep ajaran yang luas dan lengkap. Hal ini diungkapkan sebagai berikut:

suwung wangwung wuluh wungwang isi | napas angining wong | ywa pracaya ngèlmu kang mangkono | padha lawan agama Sarani | sabên Ngahat manjing | greja Yesus Kristus ||

 minta jêmbar kubure yèn mati | lêpas parannya doh | iku desa Ngara panggonane | Majakarta araning nagari | mèh lumrah wong Jawi | Ngisa gama luhung ||

 kang mangkono iku datan yukti | wiranging lêlakon | nora wêruh agamane dhewe | ngèlmu apa bae anjarwani | ingkang dakik-dakik | lêmbut mêmêt nyamut ||

 saking angèle agama Nabi | Mukhamad kinaot | dining kanang pangolah yodane | jatha antayaning kwula gusti | wit urip mring pati | titi têmah jumbuh ||

 anaksèni bisa dadi saksi | ring kawruh kinaot | wong maguru dadi guru dhewe | Kangjêng Nabi Mukhamad Sayidin | mustapa sinêlir | para manuswa nung ||[13]

[Kosong seperti halnya buluh yang tak berisi kecuali udara yang yang bisa digunakan bernafas manusia. Janganlah engkau percaya dengan ilmu semacam itu seperti halnya agama Nashrani yag setiap Minggu berangkat ke gereja Yesus Kristus

Meminta luasnya kubur jika meninggal dan tujuan dari lepasnya roh. Mereka menyebar di desa Ngoro, Mojokerto dimana di sana Agama Isa wajar dianggap agama luhur

Yang demikian itu tidak pantas, sebuah kejadian yang memalukan. Sebab mereka tidak memahami agamanya sendiri (maksudnya: Islam) dimana semua ilmu telah diajarkan secara detail, halus, lengkap, dan kompleks …

Saking sukarnya Agama Nabi Muhammad mengungkap pengetahuan tinggi dalam hubungan antara hamba dan Tuhan mulai dari kehidupan hingga mengalami kematian secara teliti sehingga sesuai dengan keyataan

Siapa pun yang mempersaksikan (bersyahadat) bisa jadi saksi bagi pengetahuan yang termuat. Seorang yang berguru akan bisa menjadi seorang guru sendiri. Kanjeng Nabi Muhammad  Sayid Musthofa selalu dikasihi oleh umat manusia].

PENYEBAB PENYIMPANGAN

Penyimpangan dalam pemikiran dan keagamaan mudah terjadi di antara manusia. Apalagi jika mereka tidak memiliki panduan yang sahih yang bisa membimbing mereka tetap berada pada jalur fithrah. Diantara penyebab penyimpangan agama di Jawa menurut Raden Panji Natarata antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, mempelajari dan mengajarkan ajaran yang tidak berasal dari ajaran Al Quran dan Shunnah. Dalam tembang Asmarandana pupuh VI bait 34 hingga 36 diungkapkan sebagai berikut:

Lamun wong tuna ing budi | malah nyimpang saking padhang | mring pêpêtêng pangancame | gugu crita ngayawara | kang dèn anggêp sanyata | nanging nyatane nora wruh | iku wong pikire tuna ||

 yèn mangkono tanpa kardi | ngèlmu Ngarab praptèng Jawa | kitab Kuran sasamine | winêdhar ing wali sanga | dalil asung pratela | jarwa-jarwa mrih nênuntun | mring manuswa punggung mudha ||

 nanging kèh kaliru uning | tekate dudu manuswa | klaut ing jaman samangke | kapulêt mulêt ing jajal | jin setan nora uwal | iyèku atining manus | kang durung pratamèng sastra ||[14]

[Adapun manusia yang kurang (merugi) budinya ia justru akan menyimpang dari jalan terang. Jalannya justru mengarah pada kegelapan karena mempercayai cerita tidak berdasar yang dianggapnya benar, namun ternyata tidak memahami hal itu. Itulah manusia yang pikirannya merugi.

Jika demikian maka tidak ada gunanya ilmu Arab sampai ke Jawa. Kitab Qur’an dan sejenisnya diajarkan oleh Wali Sanga, dalil telah menjelaskan satu-demi satu memberi pedoman kepada manusia tua dan muda.

Namun banyak yang salah memahaminya. Mereka memahami tujuan yang justru bukan tujuan hidup manusia karena terpengaruh oleh suasana jaman sekarang. Mereka tertipu dan terjerat oleh iblis, jin, dan setan sehingga tidak bisa melepaskan diri. Itulah hati manusia yang belum memahami ilmu].

Kedua, melakukan adapatasi terhadap konsep ajaran Budha namun istilah-istilahnya lantas diganti dengan menggunakan istilah-istilah Bahasa Arab sehingga terlihat seolah-olah merupakan bagian dari ajaran Islam. Istilah “Budha” di sini tidak selalu mengacu kepada ajaran Agama Budha, namun pada masa itu terminologi ini sering digunakan untuk ajaran-ajaran yang berkembang di Jawa sebelum masa berkembangnya ajaran Islam.[15] Proses adaptasi konsep Budha semacam itu ditunjukkan dalam Serat Bayanullah pupuh IV bait 18 dalam metrum tembang Sinom sebagai berikut:

Warata sun muruita, akeh kang kaliru tampi, kitab Qur’an tan pratela, ngulama kang bisa ngaji, ngawag kaworan kucing, kang den anggo ngelmu kuwuk, nggandhuli kawruh Budha, den lih tembung ing Arabi, iya iku patrape wig tanah Jawa”.[16]

(Sudah merata aku berguru, banyak diantara para guru itu yang salah memahami, kitab Al Qur’an tidak mengajarkan hal semacam itu, ulama’ yang bisa mengkaji Al Quran justru melantur tercampur dengan kucing, yang ia gunakan adalah ilmu kuwuk, berpedoman pada pengetahuan Budha yang istilah-istilahnya telah diganti dengan Bahasa Arab, hal semacam itu adalah kelakuan setan tanah Jawa).

Ketiga, niat yang keliru. Banyak orang belajar agama, namun memiliki niat yang sejak awal telah keliru. Mereka termotivasi untuk mendapatkan hal-hal yang ajaib berupa ilmu-ilmu ghaib bagi dirinya. Tidak jarang pelakunya justru orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengakses kitab-kitab dalam Bahasa Jawa maupun Arab. Hal ini diungkapkan dalam Serat Bayanullah sebagai berikut:

Akeh wong kang bisa nulis, ngaji sastra Jawa Ngarab, arang kang bisa cumanthel, awit katarik ing tekad, mring bangsa kaelokan, lah iku margane kliru, saka kawruhe priyangga.”[17]

[Banyak orang yang bisa menulis dan mengkaji tulisan berbahasa Jawa dan Arab namun sedikit yang bisa mengamalkannya dengan baik. Hal ini terjadi karena termotivasi oleh tekad untuk menguasai hal-hal yang ajaib (ilmu ghaib), itulah penyebab keliruan mereka yang berasal dari pemahamannya sendiri].

Selain itu, keempat, penyimpangan dalam bidang pemikiran dan keagamaan juga bisa terjadi akibat manusia terseret mengikuti ajaran nenek moyangnya tanpa bersikap kritis. Kasus semacam ini merupakan tantangan dakwah yang sejak awal juga telah dihadapi oleh Rasulullah Muhammad. Beliau harus memahamkan bangsanya dan seluruh umat manusia bahwa penyembahan terhadap berhala yang diwarisi dari nenek moyang telah menghalangi manusia dari penyembahan kepada Allah semata. Penyimpangan semacam ini menurut Raden Panji Natarata bisa menyebabkan manusia tertutup hatinya sehingga sulit menerima kebenaran. Dalam Serat Bayanullah diungkapkan dalam tembang Dhandhanggula pupuh XI bait 23 dan 24 sebagai berikut:

dènnya tan wruh padhang kang ngalingi | sujanma wruh kalinganing netra | ngucap kalingan cangkême | kuping kalingan krungu | gugon-tuhon barang tan yukti | mambu kalingan grana | mangkono truwilun | luwih angèl sung wêwarah | yèn wong wuta tinuntun ratuning gampil | yèn wong kalingan padhang ||

 luwih ewuh pakewuh sinung wrin | saka pangakune têtela trang | gandhuli kakèk moyange | atine kang kalimput | angên-angên anarik silib | ngapusi kanyataan | mila kèh wong klèru | angên-angên cinipta Hyang | yèn wong pana pramanêm rasaning wadi | pikiran jajalanat ||”[18]

[(mereka tidak bisa memahami kebenaran tentang Allah) disebabkan tidak melihat karena terhalangi oleh cahaya yang terang. Manusia yang bisa melihat namun justru terhalangi oleh matanya sendiri. Mereka berucap namun terhalangi mulutnya. Telinganya tertutup oleh pendengarannya. Hal itu terjadi karena mereka hanya percaya kepada takhayul (= gugon tuhon) sesuatu yang tanpa dasar  karena penciumannya terhalangi oleh hidung. Demikian itulah orang yang sangat bodoh, sangat sulit untuk diberi penjelasan. Jika orang buta matanya maka akan sangat mudah untuk dituntun, namun tidak demikian halnya jika orang tersebut tertutup dari hal yang terang.

Akan sangat sulit menerima sebuah pemahaman karena dari pengakuannya telah jelas bahwa ia hanya mempertahankan keyakinan nenek moyangnya. Dengan demikian hatinya tertipu oleh angan-angannya keliru sehingga ia mengingkari kenyataan. Maka banyak manusia yang tersesat disebabkan buah dari angan-angan dianggap sebagai Tuhan. Bagi orang yang sudah mengerti dan awas terhadap rahasia hal semacam itu adalah pikiran dajal laknat].

Menurut M. Natsir, dalam konteks keindonesiaan, gerakan untuk kembali kepada spiritualitas dan budaya “nenek moyang” merupakan salah satu tantangan yang akan dihadapi oleh umat Islam. Natsir menyebut gerakan semacam ini sebagai Nativisasi[19] yaitu gerakan yang berupaya mengangkat sedemikian rupa kebudayaan-kebudayaan nusantara sebelum kedatangan Islam dengan tujuan untuk memarginalkan peran Islam di tanah air. Upaya menghidupkan kembali suatu aspek dari kebudayaan semacam ini tentu bukan masalah untuk dilakukan. Namun menjadi masalah bagi umat Islam ketika aspek-aspek kebudayaan tersebut diseleksi sedemikian rupa atau bahkan melalui proses rekayasa dengan tujuan memarginalkan dan bahkan menghilangkan peran Islam dari kebudayaan.

MENUJU PERBAIKAN

Agar tidak tersesat dalam pemikiran yang bertentangan dengan Islam, Raden Panji Natarata memberikan nasehat agar berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Kehati-hatian ini hendaknya didukung oleh pemahaman dan pengamalan syari’at agama dengan benar. Hal ini diungkapkan dalam tembang Asmarandana pupuh VI bait 22 sebagai berikut:

Wong angrusak sarengat nabi, anglebur tataning praja, kang wus kanggo selawase, ywa darbe tekad mangkana, ing lesan lan wardaya, wong nalare mung sadumuk, iku angger den waspada.”[20]

[Orang yang merusak syari’at Nabi, akan menyebabkan leburnya aturan negara yang sudah berlaku selamanya. Jangan sampai memiliki tekad seperti itu baik dalam ucapan maupun hati, manusia itu kemampuan nalarnya sangat terbatas, karena itu maka hendak-Nya selalu waspadalah].

Menurut Raden Panji Natarata, konsep manusia utama hanya bisa dicapai oleh mereka yang menjalankan ajaran Islam. Peribadatan yang dilakukan manusia tidak boleh dilakukan dengan mengikuti ajaran yang tidak memiliki dasar. Satu-satunya ajaran yang menyediakan dasar-dasar yang kokoh bagi kehidupan manusia hanyalah Islam. Dalam tembang Asmarandana pupuh XIII bait 6 diungkapkan:

tamaning janma dimurti | murcita sandining barang | patraping puja-pujine | ywa nganti angayawara | wong urip iku Islam | pikukuhe ingkang kukuh | wus mamèt daliling sarak ||”[21]

[Keutamaan manusia itu yang memahami rahasia tentang peribadatannya. Jangan sampai dilakukan secara sembarangan. Manusia hidup itu pengukuhnya yang kokoh adalah ajaran Islam yang sudah telah termuat dalam dalil syara’].

Syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad inilah. yang akan terus berlaku hingga hari kiamat. Oleh karena itu sebisa mungkin manusia harus berupaya untuk mengamalkan dan memperjuangkan syari’at tanpa pernah berhenti. Dalam pesan pada bagian akhir karyanya, tembang Asmarandana pupuh XIII bait 22 dan 23, Raden Panji Natarata menekankan:

nora kandhêg rina wêngi | tan antara maca salat | salat sarengat kinaot | kang langgêng praptèng kiyamat | mangkana dalil kitab | wasrengatu mukhamadun | bakin ilayomil kyamat ||

 sarengate Kangjêng Nabi | Mukhamadinil mustapa | têkèng ari kiyamate | lah iku wêtune napas | pôncadriya sabadan | langgêng sajêroning idhup | nora kandhêg pujinira ||”[22]

[Tidak pernah terputus baik siang maupun malam, tanpa alasan harus melakukan shalat sebagaimana termuat dalam syari’at yang berlaku langgeng hingga hari kiyamat. Demikian itulah dalil Kitab “dan syariat Nabi Muhammad berlaku hingga hari kiamat.

Syariat Kanjeng Nabi Muhammad dinil Mustafa sampai hari kiamat menjadi bagian dari keluar masuknya nafas, panca indra dan seluruh badan, langeng selama masih hidup dan tidak akan pernah terputus ibadahnya].

            Jadi dalam konsep pemikiran Raden Panji Natarata, hanya dengan memahami ajaran Islam dengan baik saja, maka manusia akan bisa selamat menempuh kesempurnaan hidup. Al Qur’an dan Shunnah merupakan sumber utama bagi mereka yang ingin mendalami konsep “sangkan paraning dumadi”. Sebab hanya ajaran Islam saja yang mengatur perjalanan manusia sejak lahir di dunia hingga mengalami kematian. Sementara kematian itu bukan merupakan akhir dari perjalanan itu sendiri. Syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad telah memuat seluruh ajaran ini. Inilah pesan sesungguhnya dari kandungan Serat Bayanullah yaitu agar manusia tidak tergelincir ke jalan yang sesat dan menyesatkan sehingga akan semakin jauh dari cahaya kebenaran, Islam. [Susiyanto]

FOOTNOTE

[1] Raden Sasrawijaya atau Raden Panji Natarata pernah menjabat sebagai Kepala Distrik Ngijon, Yogyakarta dan guru Bahasa Jawa di Surakarta. Ia hidup sekitar tahun 1810 hingga 1890 M. Pendapat lain menyebutkan antara tahun 1820 hingga 1890 M. Jelaskan ketika terjadi perang Jawa ia telah menjadi abdi negara di Keraton Yogyakarta. Sekitar tahun 1850-an ketika berusia empat puluhan tahun, ia berhenti dari jabatan sebagai Mantri Polisi di Gandawulung, Kabupaten Kalasan dan diangkat menjadi kepala distrik di Ngijon yang berada di wilayah Kabupaten Suleman (Sleman). Saat itulah ia mendapatkan nama baru yaitu Raden Panji Natarata.

Saat menjadi seorang panji di distrik Ngijon ini kelebihan Raden Panji semakin nampak menonjol. Ia merupakan sosok yang cerdas. Ia merupakan ahli Bahasa Jawa. Mampu menulis dalam aksara latin, Jawa, dan Arab. Selain Bahasa Jawa, ia juga mampu berbahasa Melayu dan Arab. Ia juga menguasai ilmu hitung, ilmu alam, ilmu falak, anatomi, dan sebagainya. Kelebihan dalam berbagai bidang ini, yang pada masa itu bahkan belum tentu dimiliki oleh orang sekapasitas bupati atau patihnya, ia banyak menuai kekecewaan dalam pengabdiannya. Tak jarang, ia banyak mengalami kekurangcocokan dengan kebijakan atasannya yang berasal dari bangsa Jawa maupun Belanda. Ia juga tahu bahwa karirnya tidak akan berkembang karena ia sering bertindak “berani karena benar”. Sejak itulah ia lantas melepaskan jabatannya dan mulai mengembara untuk mencari ilmu kesempurnaan hidup meninggalkan semua kenikmatan dunia yang ia miliki. Ia telah menjelajah pulau Jawa dan Bali. Setiap ada kabar tentang seorang guru yang memiliki ilmu kesempurnaan, maka ia akan mendatangi orang tersebut dan mencecap ajarannya. Namun semua itu tidak memuaskan kehausannya akan ilmu.

Guru terakhir bernama Sayid Odrus di Kramat, Batavia itulah yang akhirnya ia anggap mampu menerangkan tentang hakikat kesempurnaan. Dari sinilah perjalanan Raden Panji Natarata yang pernah menjadi guru kebatinan atau bahkan pernah menganut paham “ngoraake anane Allah” (menganggap eksistensi Allah tidak ada = atheisme) berubah menjadi seorang muslim yang taat. Serat Bayanullah, yang dibahas dalam naskah ini, boleh dikatakan merupakan sebuah karya sastra “pertobatan” yang membuktikan perubahan dalam dirinya.

Perlu dipahami karya-karya lain Raden panji Natarata seperti Seperti Serat Syekh Siti Jenar, Serat Musyawaratanipun Para Wali, dan lain-lain merupakan menunjukkan alam berpikir lamanya, sebelum mengenal Sayid Odrus. Pada bagian ini nampaknya Bratakesawa salah menilai tentang perubahan keyakinan yang dialami Raden Panji Natarata, yang dianggapnya masih berpaham atheisme. Lihat: Bratakesawa,  Falsafah Sitidjenar: Ngewrat Pangrembag Paham Wihdatul-Wudjud (Panteisme) Ing Tanah Djawi Ingkang Menggok Dados Paham Ngaken Allah Tuwin Ngorakaken Wontenipun Ingkang Nitahaken, Cetakan VI, Surabaya: Penerbitan Djojobojo, 1954, hlm. 17-23

[2] Lihat: Almenak H. Buning, Yogyakarta: Kolff Buning, 1920, hlm. 2-96

[3] Budayawan di Surakarta yang banyak menghasilkan karya-karya tulis tentang Jawa. Ia termasuk aktif mengangkat kembali naskah-naskah klasik untuk diterbitkan dalam aksara latin.

[4] Lihat: R. Tanaya (ed.), Kalempakaning Serat-serat Natarata: Kalempakaning Pinanggihipun Serat-serat Ingkang Sumber Salinipun Sakawit Saking Gegubahanipun Ingkang Pinudyasma Raden Panji Natarata, tanpa tempat: tanpa penerbit, 1959

[5] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah: Anggitanipun Swargi Raden Panji Natarata Kepala Dhistrik Ngijon ing Ngayogyakarta, Inggih Raden Sasrawidjaja Guru Basa Jawi ing Pamulangan Calon Guru Surakarta, Surabaya: Penerbitan Jayabaya, 1975, hlm. 6

[6] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah …, hlm. 8

[7] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah…, hlm. 6-7

[8] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah…,hlm. 12

[9] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah…,hlm. 33-34

[10] Lihat: Jans. S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Cetakan II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005, hlm. 87-90; S.H. Soekotjo, Sejarah Gereja-gereja Kristen Jawa, Jilid 1: Di Bawah Bayang-bayang Zending 1858-1948, Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2009, hlm. 100-102

[11] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah…,hlm. 34

[12] Pada masa lalu, dalam penyebarannya di Jawa, Agama Kristen memang sering diperkenalkan sebagai Agama Nabi Isa. Hal ini dilakukan karena masyarakat Jawa secara umum telah mengenal sosok Nabi Isa sebagai salah satu nabi yang diakui dalam ajaran Islam. Pengenalan Nabi Isa sebagai seorang pembawa agama dimungkinkan akan mempermudah upaya pendekatan dan peyebaran agama Kristen.

[13] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah …, hlm. 27-28

[14] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah …, hlm. 25

[15] M.C. Ricklefs. Sejarah Modern Indonesia. Cetakan II. Diterjemahkan dari “A History of Modern Indonesia”, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992, hlm. 196

[16] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah …, hlm. 18

[17] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah…, hlm. 25

[18]

[19] Lihat: A. Watik Pratiknya (ed.), Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak, Jakarta-Yogyakarta: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Laboraturium Dakwah, 1989.

Menurut Kamus Ilmu-ilmu Sosial karya Hugo F. Reading, istilah “nativism” dimaknai sebagai setiap usaha sadar dan terorganisir dari suatu bangsa untuk menghidupkan kembali atau mengekalkan aspek-aspek pilihan dari kebudayaan mereka.[19] Abu Ahmadi dalam Kamus Lengkap Sosiologi memberikan definisi yang hampir serupa,bahwa nativisme adalah kegiatan terorganisasi guna menghidupkan atau mengabadikan berbagai aspek tertentu dari suatu kebudayaan Lihat: Hugo F. Reading, Kamus Ilmu-ilmu Sosial, Jakarta: Rajawali, 1986, hlm. 268

Selain definisi di atas, dalam kajian Antropologi, terdapat sebuah istilah ”gerakan nativistik Movement” yang dimaknai oleh Ralph Linton, sebagai usaha yang sadar atau sengaja dari kelompok masyarakat untuk mempertahankan atau menghidupkan terus-menerus aspek-aspek budayanya. Lihat: Abu Ahmadi, Kamus Lengkap Sosiologi, Solo: Aneka, 1991, hlm. 181.

Dengan mengacu pada definisi yang telah disebut di awal, maka istilah gerakan nativisasi dalam kajian ini dimaknai sebagai usaha sadar dan terorganisir untuk menghidupkan kembali dan mengabadikan berbagai aspek tertentu dari suatu kebudayaan.

[20] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah…, hlm. 24

[21] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah…, hlm. 46

[22] Bratakesawa (ed.), Serat Bayanullah…, hlm. 48

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *