Scroll to Top

SANTISWARA DAN DAKWAH MELALUI SENI

By Susiyanto / Published on Thursday, 15 Jan 2009 16:25 PM / 1 Comment / 900 views

Perburuan yang penulis lakukan dalam mengeksplorasi dan melakukan kajian lapangan terhadap proses dakwah walisongo dan kebatinan Jawa pada akhirnya mengantarkan penulis untuk menyaksikan sebuah pertunjukan Seni Jawa bernuansa Islam dalam rangka tirakatan bulan Sura (Muharram) di Padhepokan Gedhong Putih di Plesungan, wilayah Kabupaten Karang Anyar yang berbatasan dengan Surakarta, pada 17 Muharram 1430 H atau bertepatan 12 Januari 2009 mulai ba’da Shalat Isya.

. Awalnya penulis mengira bahwa acara tersebut adalah prosesi ritual khas kaum kebatinan Jawa. Namun nampaknya penulis salah, sebab acara yang diselenggarakan di padhepokan milik bapak Seno Hadisumarno tersebut lebih merupakan sebuah pertunjukan seni shalawatan jawa yang menghadirkan suasana masa lalu dan bukannya ritual sebuah aliran kebatinan. Dihadiri oleh sejumlah penikmat seni dari berbagai kalangan, termasuk dari warga negara asing.

Perhelatan seni tersebut dimainkan di Pendapa yang terletak di tengah-tengah Padhepokan. Di sisi sebelah timur pendapa terdapat altar pertunjukan dan tempat duduk bagi penontonnya. Sedangkan di belakang pendhapa terdapat sejumlah taman yang menghadirkan suasana khas etnis Bali dan beberapa detail khas gaya Majapahit. Di taman tersebut juga dapat dijumpai sebuah replika stupa dalam wujud mini, tempat dolanan dakon, kamar mandi yang menggambarkan sebuah alam bebas, bambu kuning yang bagi sebagian orang Jawa menyiratkan sebuah simbolisasi tertentu, dan beberapa detail lainnya.

Berbagai perangkat seni dapat dijumpai malam itu. Diantaranya, piranti Santiswara yang terdiri dari kendhang yang dikolaborasikan dengan rebana, wayang berikut kelirnya, dan seperangkat alat musik gesek dari Pasundan. Pementasan pertama dimulai dengan pertunjukan kekidungan Macapat Santiswara yang menampilkan sejumlah shalawatan dalam format Macapatan. Diantaranya menjelaskan tentang hakikat hidup menurut Islam, penjelasan tentang kematian, bagaimana seharusnya muslim menuntut ilmu, pemahaman akan makna tauhid, dan sebagainya. Diantara petuah yang disampaikan antara lain penggambaran kedatangan maut sebagai sebuah hakikat dijelaskan bahwa “digedhongana di kuncenana, yen mati mangsa wurunga” Artinya walaupun berada dalam bangunan yang kokoh terkunci, maka jika ajal telah sampai hal tersebut tidak akan menyurutkan datangnya maut. Dalam melihat proses tansfer keilmuan dan penyampaian nasihat baik maka diterapkan jangan melihat siapa yang menyampaikan namun lihat apa dan bagaimana yang disampaikannya, tidak peduli hal itu berasal dari kalangan sudra papeki. Hal ini juga mengingatkan kalangan penguasa bahwa mereka hendaknya juga mau dan bertanggung jawab untuk mendengarkan suara dari rakyat jelata di akar rumput. Lagu-lagu yang mengandung petuah luhur khas Islam tersebut kemudian dipadukan dengan sejumlah ajaran moral yang berasal dari Serat Wulangreh. Misalnya, salah satu syairnya terangkum dalam satu pupuh tembang Gambuh adalah sebagai berikut:

Sekar Gambuh ping catur

Kang cinatur polah kang kelantur

Tanpa tutur katula-tula katali

Kadalu warsa kapatuh

Katutuh pan dadi Awon

Lagu di atas mengetengahkan tentang tingkah laku manusia yang telanjur berlebih-lebihan dan tanpa mengindahkan tuntunan nasihat luhur. Akhirnya tingkah laku tersebut menjerumuskan pelakunya dalam kehinaan. Menariknya, acara ini juga bisa dinikmati oleh kalangan yang tidak Berbahasa Jawa, sebab pemimpin grup santiswara yang tampil, Ki Waluyo, juga memberikan sejumlah penafsiran atas syair dan gending-gending yang dibawakannya dalam Bahasa Indonesia. Harus dipahami bahwa acara tersebut memang dihadiri oleh sejumlah kalangan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk penikmat budaya dari asing.

Pertunjukan kedua dilanjutkan dengan petikan alat musik petik khas Pasundan yang dimainkan oleh Bapak Yahya, seniman Sunda dan diiringi tembang oleh saudari Melani. Sedangkan pertunjukan ketiga diisi dengan pagelaran wayang rajakaya (baca : ‘rojokoyo’). Kata rajakaya artinya adalah binatang ternak. Jadi sudah dapat ditebak bahwa tontonan satu ini menyuguhkan wayang yang peraganya terdiri dari sejumlah hewan-hewan. Bapak Seno sempat memperkenalkan bahwa wayang rajakaya tersebut sempat pentas di Jerman dan cukup diminati di sana.

Perlu diketahui wayang dengan tokoh peraga berupa hewan bukan merupakan hal yang baru di Jawa. dahulu orang Jawa pernah mengenal bentuk wayang kancil dimana yang dilakonkan adalah cerita tentang binatang dan menghadirkan ajaran moral yang secara normatif seharusnya dilakukan manusia. Sebuah sindiran khas dimana manusia justru diajari oleh sekumpulan binatang dalam menjalankan nilai-nilai keluhuran. Wayang kancil diciptakan oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem dan pembuat wayangnya yang terkenal bernama Lie Too Hien pada tahun 1925. Beda antara wayang rajakaya yang termasuk kreasi baru dengan wayang kancil terletak pada bentuk wayangnya. Dalam wayang rajakaya, bentuk wayangnya telah dipersonifikasikan dalam wujud manusia berkepala hewan. Sedangkan wayang kancil menampilkan wujud hewan wantah atau dalam arti dan bentuk yang sewajarnya.

Cerita malam itu membawakan lakon “Sapi Nyusu Bodhone” yang artinya ‘sapi menyusu kepada kebodohannya’. Terma lakon ini mirip dengan paribasan (peribahasa) Jawa “ Kebo Nusu Gudel” (Kerbau menyusu kepada anaknya) yang bermakna bahwa orang-orang yang telah tua justru berguru kepada orang yang lebih muda. Jadi mungkin saja bahwa maksud dari lakon “Sapi Nyusu Bodhone” adalah seekor sapi saja ternyata mau belajar dari kesalahan dan kebodohannya, maka seharusnya manusia mampu melakukan lebih dari itu. Bukan sebaliknya, justru bertindak mengulangi kebodohan yang sama.

Adapun jalannya cerita, dikisahkan bahwa ada seekor sapi yang hidup disebuah tanah pertanian dimana kebutuhan hidupnya selalu terjamin. Tanah pertanian itu juga memiliki pengamanan berupa pagar listrik sehingga sang sapi senantiasa merasa aman dan nyaman tanpa gangguan hidupnya. Akibatnya sapi menjadi bodoh dan bahkan sombong terhadap hewan hutan yang berada di luar pagar listrik. Sampai suatu ketika terjadi bencana besar yang meluluh lantakkan bumi. Sang sapi selamat, namun tidak tersisa satu rumput pun di tanah pertanian tersebut. Tersebutlah, seekor badak tua yang menasehati sapi tersebut bahwa di sebuah bukit ada sebuah padang rumput impian, satu-satunya tempat yang tidak ikut tersapu bencana. Sang sapi kemudian berusaha untuk terus memperjuangkan dan melanjutkan hidupnya. Inti moral yang ingin disampaikan dalam cerita tersebut sebenarnya merupakan ungkapan satiris terhadap kemandirian bangsa Indonesia. Di masa lalu bangsa Indonesia telah terbiasa hidup enak dalam bumi yang makmur gemah ripah loh jinawi sehingga melupakan sejumlah nilai kehidupan yang seharusnya digenggamnya. Namun karena kemandirian yang seharusnya menopang kehidupan telah lenyap pula oleh arus kenikmatan yang diterimanya, maka manusia Indonesia lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang tak terduga. Akibatnya ketika bangsa Indonesia telah mengalami ‘bencana’, rakyatnya telah terjerumus menjadi ‘kurang mandiri’, senang menyalahkan sesamanya, tinggi angan-angan, mengharapkan keadilan namun mengimpikan hidup enak dengan mendzalimi yang lain, dan terlalu banyak menuntut sementara kemalasan meraja lela.

Pasca pertunjukan wayang rajakaya, pengunjung dipersilakan untuk menikmati hidangan secara prasmanan. Hidangannya tentu saja khas perayaan syura. Di antaranya bubur Sura, nasi liwet, ayam kukus, kacang polong, keripik kacang, dan telur sisir sedangkan minumannya teh manis. Pasca itu, acara kemudian dilanjutkan dengan mengetengahkan kembali gendhing santiswara seterusnya. Acara tersebut memang tidak dibatasi waktu berakhirnya. Bahkan dalam undangan yang kebetulan diperlihatkan Pak Rudiyanto disebutkan bahwa selesainya acara adalah ‘sekuatnya’ menahan kantuk.

Penulis melihat bahwa dakwah yang dilakukan melalui pertunjukan seni sebagaimana dipentaskan di Padhepokan Gedhong Putih ternyata memiliki komunitas garap tersendiri. Artinya ada sejumlah pihak tertentu yang bisa disentuh oleh nilai-nilai Islam melalui pengolahan cita rasa ‘kejawaanya’. Tentu saja bagi kalangan muslim yang lain hal ini bersifat problematik dan memantik kontroversi. Anehnya, sringkali pihak yang sinis terhadap model dakwah ini, hanya terkungkung dalam kata pedas dibalik perlindungan “jubah kesucian diri” dan tidak mau beranjak dari komunitasnya. Tidak ada upaya konkret, selain mengandalkan daya cela dan keterampilan mencaci semata tanpa tergerak berdakwah mengubah keadaan. Agaknya, perlu dipahami bahwa jika bukan nilai Islam yang mengisi mereka maka paham lain yang akan menggantikannya. Maka sejumlah argumentasi menunjukkan bahwa pengislaman melalui budaya tidak boleh ditinggalkan.

DOKUMENTASI


UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada sejumlah pihak sebagai berikut:

  1. Bapak Seno Hadisumarno, penyelenggara dan tuan rumah yang menerima saya dengan baik dalam status penulis sebagai ‘tamu tak diundang’(tapi bukan maling) serta memberikan keleluasan kepada penulis untuk mendokumentasikan jalannya perhelatan seni.
  2. Bapak Rudiyanto, elit manajemen sebuah Rumah Sakit Islam di Surakarta, yang memberikan informasi tentang acara-acara kejawen sekaligus memberikan fasilitas penjemputan. Hal ini sangat membantu dalam pengumpulan sejumlah data yang penulis perlukan.
  3. Bapak Arif Wibowo, pengamat dakwah dan pengurus Dewan Dakwah Cabang Jawa Tengah, yang bersedia menemani dan menjadi partner dalam mendiskusikan sejumlah persoalan budaya.

Wallahu a’lam.

Tambahan : Penelitian saya ini menggunakan teknik grounded research, jadi sangat wajar jika kemudian dihadapkan dengan sejumlah fakta yang seringkali tidak terlihat berhubungan dengan tema sentralnya. Namun keunggulan metode ini adalah mampu menghasilkan lebih dari satu tema tulisan sekaligus dalam satu waktu penelitian. Perlu diketahui bahwa apa yang saya tampilkan di blog biasanya memang bukan keseluruhan hasil penelitian, namun meliputi garis besarnya saja.

One thought on “SANTISWARA DAN DAKWAH MELALUI SENI”

  1. Soal Keesaan Allah dan Keilahian Yesus Kristus
    PERTANYAAN:
    Saya membaca Alkitab, dan menyimpulkan bahwa tidak ada kontradiksi antara ajaran Yesus dan Muhammad, khususnya dalam ajaran mengenai keesaan Allah. Dalam Yohanes 17:3 Yesus bersabda: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu hendaknya mereka mengetahui bahwa Engkau adalah satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. Jadi bisa dirumuskankan: “Tidak ada ilah selain Allah dan Yesus adalah utusan Allah”, yang paralel dengan ajaran pokok Islam: Lâ Ilaha illa Allah, Muhammad Rasul Allah. Artinya: “Tidak ada ilah selain Allah, Muhammad Utusan Allah”. Lagi, dalam 1 Timotius 2:5 disebutkan: “Karena Allah itu Esa, dan esa pula Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Manusia Kristus Yesus”.
    Dalam Markus 12:29 Yesus mengutip Taurat: Dengarlah hai Israel, Allah Tuhan kita, Tuhan itu Esa”. Tetapi antara Islam dan Kristen menjadi berbeda secara funda-mental ketika Kristen mengajarkan Trinitas, termasuk pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan: “Kafirlah orang yang berkata bahwa Allah itu adalah ketiga dari Trinitas, padahal tidak ada ilah kecuali Ilah yang Esa” (Q.s. Al-Maidah/5:73).
    JAWABAN:
    Dalam bahasa asli, Q.s. Al-Maidah/5:73 berbunyi: Laqad kafar alladzina qaluu Innallaha tsalitsu tsalatsah. “Kafirlah orang yang berkata bahwa Allah itu adalah ketiga dari tiga”. Terjemahan “Allah is one of three in a Trinity” jelas-jelas salah. Tsalitsu tsalatsah, secara harfiah: “ketiga dari yang tiga”. Kata Trinitas berasal dari bahasa Latin: treis = “tiga”, dan unitas = “satu”, “ketiga dari yang satu”, bahasa Arabnya: tsalitsu wahidah, dan bukan tsalitsu tsalatsah. Selan-jutnya, secara historis ayat tersebut sama sekali tidak cocok bila diterapkan bagi Iman Kristen. Banyak ayat-ayat Qur’an yang mengkritisi Iman Kristen, sebenarnya ditujukan kepada sekte-sekte heretik (sesat) Kris-ten yang berkembang di Mekkah dan sekitarnya pada zaman Muhammad, misalnya: Collyridianisme (atau: Maryamin), Gnostik, Dokotisme, dan sebagainya, dan bukan Iman Kristen resmi yang waktu itu berpusat di Byzantium, Alexandria, Antiokia, Eddesa dan wilayah Turki sekarang.
    Iman Kristen sejati tidak pernah mempercayai paham primitip Tsalitsu tsalatsah, sejenis paham Tritheisme yang terdiri Allah, Isa dan Maryam (Q.s. Al-Maidah 116). Karena itu, dalam 1 Korintus 8:4 Rasul Paulus berkata: Oudeis theos utheros ei me heis. Artinya: “Tidak ada ilah lain kecuali Allah Yang Esa”. Dalam Alkitab bahasa Arab diterjemahkan: Lâ ilaha illa Allah al-Wahid. Jadi, jauh sebelum Islam lahir ungkapan “Tidak ada ilah selain Allah” sudah ada dalam Iman Kristen. Karena itu, kebanyakan umat Islam mengkritik Iman Kristen tetapi sebenarnya mereka tidak memahami apa yang mereka kritik. Salah satu sebabnya, karena menyamaratakan sekte-sekte Kriusten primitip di Mekkah dan sekitarnya, yang pahamnya dikritik keras oleh Al-Qur’an, paham primitip yang sebanrnya juga tidak diimani oleh umat Kristen, baik Katolik, Protestan, apalagi gereja-gereja ortodoks yang jelas-jelas mempunyai akar historis yang “sanad”-nya bisa dibuktikan dari Yesus dan para murid-Nya.
    3. Makna Ajaran Ketritunggalan Allah
    PERTANYAAN;
    Kalau begitu, bagaimanakah ajaran Trinitas seperti yang diajarkan oleh Alkiatb sendiri? Dan apakah perbedaannya dengan paham “triteisme” yang dikritik oleh Al-Qur’an?
    JAWABAN:
    Trinitas tidak mengajarkan adanya 3 Tuhan, apa-lagi terdiri Allah, Isa dan Maryam (Q.s. Al Maidah 73, 116). Ajaran Tritunggal ini tidak lahir dari alam politeisme seperti yang dihadapi Islam, sehingga al-Qur’an menegaskan Lam Yalid wa lam yulad. Artinya: “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Kritik Lam yalid wa lam Yulad dalam surah al-Ikhlas itu, konteks semula ditujukan kepada keyakinan Arab pra-Islam yang menganggap al-Lata, al-Uzza dan Manat sebagai Banat Allah (putri-putri Allah). Kristen muncul dari latarbelakang Yahudi yang monoteis, sehingga yang mau dijawab dengan akidah Kristen bukan “keberapaan Allah”, tetapi “kebagaimanaan Allah Yang Esa” (Ibrani: Elohim Ehad, Suryani: Had Alaha, Arab: Allahu Ahad). Tetapi bagaimana dengan Bapa, Putra dan Roh Kudus? Bapa adalah kata kiasan untuk Wujud Allah, Putra adalah Firman-Nya, dan Roh Kudus atau Hayat/Hidup Allah.
    Dalam keyakinan Kristen, Firman itu telah turun (nuzul) menjadi manusia, sebanding dengan keyakinan Islam Firman menjadi Alqur’an. Lalu apabila Al-Qur’an itu mempunyai wujud temporal berwujud Kitab berbahasa Arab (kalam Lafdzi), sekaligus kekal yaitu Kalam Nafsi yang tersimpan di Lauh al-Mahfud. Kalam yang Lauh al-Mahfud itu kekal, dan bukan makhluk. Begitu juga keyakinan Kristen, Yesus yang kelihatan, lapar dan haus itu Nabi dan rasul (Ibrani 3:1), bukan Allah dan bukan Tuhan. Karena itu ia berdoa dalam kema-nusiaan-Nya, tetapi sebagai Firman Allah, Ia kekal dan satu dengan Wujud Allah (Yohanes 1:1). Yohanes 17:3 dan 1 Timotius 2:5 jelas-jelas merujuk kepada kemanusiaan Yesus, dan tidak perlu dipertentangkan dengan keilahian Firman Allah: Pada Mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama Allah, dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa DFia tidak ada sesuatu pun yang jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yohanes 1:1,3).
    Dalam makna Firman yang kekal itulah, Yesus disebut Putra Allah, bukan menunjuk kemanusiaan-Nya. Allah itu kekal, dan Firman serta Roh-Nya juga sama-sama kekal. Sebab kalau Firman tidak kekal, berarti ada waktu tertentu dimana Allah tidak punya Firman. Itu mustahil bukan? Begitu juga Roh Allah harus kekal bersama Wujud Dzat-Nya, sebab tidak mungkin Allah pernah ada tanpa Roh-Nya (jadi bukan juga Malaikat Jibril seperti disalahpahami beberapa tafsir Qur’an, seperti Jalalain, dan sebagainya). Itulah yang disebut Ajaran Tritunggal, bukan triteisme seperti tuduhan beberapa polemikus Muslim seperti Ahmad Deedat.. Belajarlah dari sumber Kristen langsung, sebelum menulis begitu “percaya diri/PD”. Penguasaan sejarah juga sangat penting, dan harus mengacu dari sumber-sumber primer, bukan dari sumber-sumber sekunder kaum polemikus yang mengutip dari kutipan orang tanpa check and recheck dari sumber aslinya.
    4. Menjelaskan Keilahian dan Kemanusiaan Yesus Kristus (The Godhead and The Manhoof of Jesus Christ)
    PERTANYAAN:
    Itulah keyakinan Kristen tentang “dua tabiat Kristus”, sepenuhnya Ilahi dan sepenuhnya insani. Keyakinan ini sulit dimengerti umat Islam, sebab di satu pihak sebagai Allah Dia Maha Kuasa, tetapi pada saat yang sama Dia menderita, bahkan bisa mati. Kalau lagi menangis dan dicobai, lalu mana yang disebut Allah? Seandainya kita lagi berdoa, dan Dia menjawab begini: “Aku ini lagi bersifat manusia, sama seperti kamu aku sendiri juga berdoa?” Itulah sebabnya bagi umat Islam keyakinan tentang dua tabiat Yesus itu tidak masuk akal.

    JAWABAN:
    Keyakinan kami tentang kedua tabiat Al-Masih sebanding (tidak persis sama) kalau umat Islam memahami Qur’an sebagai Kalam (Sabda) Allah. Al-Qur’an itu di satu sisi ghayr al-makhluq (tak tercipta) sebagai Kalam Nafsi (Sabda yang kekal), tetapi juga sekaligus makhluq (tercipta) sebagai kalam lafdzi (Sabda temporal dalam wujud nuzulnya sebagai “kitab berbahasa Arab”). Kalau ada yang bertanya, Allah mana lagi yang menjawab doa Yesus, kalau Yesus sendiri adalah Allah? Jawabnya: Yang berdoa adalah kemanusiaan Yesus, dan yang menjawab doa adalah Allah yang selalu berdiam bersama Firman-Nya yang kekal (Yoh. 1:1’ 8:42, 58) dan Roh-Nya yang kekal (Yoh. 15:26; 1 Kor. 2:10-11). Allah, Firman-Nya dan Roh-Nya adalah Allah yang Mahaesa. Karena Firman dan Roh-Nya selalu menyatu dengan Wujud Dzat-Nya. Yesus sebagai Manusia, sebanding dengan Qur’an dalam bentuk fisik bahasa Arab. Nah, kalau Firman Allah yang ghayr al-Makhluq (bukan ciptaan) bisa nuzul astau turun menjadi kitab, sebuah benda mati, lalu apa mustahilnya menjadi Manusia (lihat. Yohanes 1:14)?
    Selanjutnya, kalau umat Islam berkata bahwa Al-Qur’an itu tak tercipta, bukankah kertasnya itu tercipta, huruf Arabnya berkembang (zaman Nabi belum ada harakat). padahal sesuatu yang berkembang itu ciptaan, kira-kira seperti itu. Kalam Allah itu kekal, tetapi toh kertasnya Qur’an sebagai wujud pengejawantahan wahyu juga bisa rusak. Seperti itulah pengibaratan kematian Yesus. Ketika umat Kristiani menyebut Firman itu bersama Allah dan Firman itu Allah (Yohanes 1:1,14), dan sama sekali bukan merujuk kepada kemanusian Yesus (1 Petrus 3:18).
    Mungkin umat Islam mesti memahami sejarah ilmu Kalam mengenai makhluk/tidaknya Qur’an, perdebatan kaum Ash’ariyyah dan kaum Mu’tazilah, yang ternyata ditemukan banyak paralel dengan perkembangan teologi Kristiani. Sifat-sifat Allah yang “La hiya wa laa ghayruha” (tidak sama dengan Dzat-Nya tetapi juga tidak berbeda dengan-Nya). Untuk memehami paralel keyakinan Islam dan Kristen tentang Firman yang kekal sekaligus temporal, kita bisa membaca buku Seyyed Hussein Nassr, ahli ilmu agama-agama dan seorang Muslim, dalam bukunya Ideals and Realities of Islam (Cairo: American University Press, 2002) sebagai berikut:
    One could of course make a comparison between Islam and Christianity by comparing the Prophet to Christ, the Quran to The New Testament, Gabriel to The Holy Ghost, the Arabic language to Aramaic, the language spoken by Christ, etc. In this way the sacred book in one religion would correspond to the religion to the central figure in the other religion and so on. This type of comparison would be of course meaningful and reveal useful knowledge of the structure of the two religions. But in order to understand what the Quran means to Muslims and why the Prophet is believed to be unlettered according to Islamic belief, it is more significant to consider this comparison from another point of view.
    The Word of God in Islam is the Quran; in Christianity it is Christ. The vehicle of the Divine Message in Christinaity is the Virgin Mary; in Islam it is the soul of the Prophet. The Prophet must be unlettered for the same reason that the Virgin Mary must be virgin. The human vehicle of the Divine Message must be pure and untainted. The Divine Word can only be written on the pure and “untouched” tablet of human receptivity. If this Word is in the form of flesh the purity is symbolized by the virginity of the mother who gives birth to the word, and if it is in the form of a book this purity is symbolized by the unlettered nature of the person who is chosen to announce this Word among men.
    5. Allah itu Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan (Lam Yalid wa Lam Yulad)
    PERTANYAAN:
    Bagi umat Islam, Allah itu Maha Esa, tidak ada yang setara dengan-Nya, Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan (Lam yalid wa lam yulad). Inilah salah satu yang mendasari mengapa umat Islam menolak keyakinan bahwa Yesus adalah Putra Allah. Karena bagi Islam, Allah itu tidak beristri bagaimana mungkin Dia mempunyai anak? Nabi Isa hanya seorang utusan Allah, Ia adalah Nabi seperti nabi-nabi yang lain.
    JAWABAN:
    Seluruh pendapat di atas di-“amin”-kan oleh Iman Kristen. Memang umat Kristen juga percaya Allah itu Esa, Tidak beranak dan tidak diperanakkan, apalagi kepercayaan primitip bahwa Ia beristri a la keyakinan Jahiliah pra-Islam, yang kemudian direaksi dalil Qur’an: Lam Yalid wa lam Yulad. Tapi perlu anda tahu, setiap agama memiliki “bahasa teologis” yang tak bisa ditafsirkan secara harfiah. Begitulah istilah Putra Allah, sama sekali bukan Allah itu beranak. Coba bandingkan, dalam Qur’an ada istilah “Ibnu Sabil”, maksudnya “musafir agama” (harfiah: “anak jalan”), tentu tak perlu bertanya: Siapa istrinya jalan? Begitu juga sebutan Allah sebagai Bapa, tidak menunjuk jenis kelamin. Islam juga ber-keyakinan Allah “beyond the gender”, tetapi karena keterbatasan bahasa, toch umat Islam berdoa: “Allahuma anta-ssalam……” Orang awam bisa saja bertanya: “Mengapa bukan “anti ssalamah”?. Jawabnya, karena masyarakat Timur Tengah itu patrilineal.
    Dalam Kristen tak ada keyakinan “injil yang turun dari langit”, sebab Firman Allah itu turun sebagai Manusia utama (Isa al-Masih), bukan berupa Kitab Injil. Jadi, tidak fair menilai Kristen dari “frame of reference” Islam, dan sebaliknya. Lagi-lagi, seorang teman Muslim yang tidak mengerti mengejek: Yesus kok sifatnya bisa mancolo Tuhan dan mancolo manusia, merasakan sakit dan menderita. Jawabnya, coba banding-kan dengan Ilmu Kalam mengenai Qur’an sebagai Kalam kekal, – yang kata Al-Ghazali: qa’imun fi Dzatihi (melekat pada Dzat-Nya), – dan “bentuk nuzul” temporalnya sebagai Kitab dalam dimensi ruang dan waktu yang terbatas! (baca: “Qawaidul ‘Aqaid”-nya Imam Al-Gazali). Puncak pergumulan kaum Ash’ariyyah itu sampai pada dalil yang lalu dinisbahkan dengan sabda Nabi Muhammad: Man Qala Innal Qur’an makhluqun fahuwa kafir Artinya: “Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an itu diciptakan maka ia adalah kafir”.
    Umat Islam percaya bahwa Firman Allah itu kekal, tidak bisa rusak, bukan? Tetapi apa ya Allah perlu tegaskan dulu: “Tunggu, yang kekal itu bukan kertasnya lho, bukan huruf dan harakat Arabnya yang berkembang (yang menunjukkan keterciptaan)? Sebab itulah hakikat pewahyuan, bagaimana “Yang Kekal” memasuki dimensi ruang dan waktu untuk menyapa manusia, entah itu diyakini nuzul sebagai “Kitab yang Ilahi” dalam keyakinan Islam, atau “Manusia Sempurna” (Insan al-Kamil) yaitu Yesus Kristus atau Isa Al-Masih dalam Iman Kristen. Keduanya sama-sama diyakini “ghairul Makhluq” (bukan ciptaan, non factum).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *